Oleh : Nasuha Abu Bakar MA
Rabu 16 September 2020 bertepatan dengan tanggal 28 kliwon Muharram 1442, sahabatnya Pak Ustadz Dzul Birri, konon posisi beliau di daerah Parung Bogor, sedang asyiknya menikmati suasana sore dan cahaya matahari sebentar lagi akan memasuki keperaduannya dengan ditandai awan merah bermunculan mengitari matahari di ufuk bagian barat.
Itulah sunnatullah tunduknya mentari setiap hari muncul dari ufuk timur dan tenggelam di bagian barat.
Sebut saja Kang Fatih, nama sahabat Pak Ustadz Dzul Birri, sedang asyik menaiki Innova warna putih susu menuju arah pulang, tiba tiba berpapasan dengan seorang laki-laki berperawakan kecil, berjalan kaki, kedua matanya tidak dapat melihat. Kang Fatih kemudian menghentikan mobilnya, lalu mencari tempat parkir di tepi jalan. Setelah merasa tepat mengambil tempat untuk memarkirkan mobilnya, kemudian Kang Fatih menghampiri laki laki yang berperawakan kecil, Kedua matanya buta tidak dapat melihat dan jalannya sedikit diseret seret.
Laki laki yang berperawakan kurus, kecil, tidak tinggi, jalannya sedikit diseret seret di atas pundaknya ada beberapa kantong plastik yang berisi makanan ringan yaitu kerupuk. Hati Kang Fatih merasa tidak tega seketika sahabat dekat Pak Ustadz Dzul Birri merogoh dompet dari saku belakang celananya. Kemudian mengeluarkan uang kertas berwarna biru bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaya dan diberikan kepada laki laki yang tuna netra tadi.
Betapa sangat terkejutnya hati kang Fatih dengan sikap penolakan yang dilakukan oleh laki laki tuna netra, dan benar benar tidak terbayangkan sebelumnya.
“Maaf Pak terima kasih atas kebaikan Bapak. Saya tidak meminta minta. Saya tidak mengemis, tapi saya jualan kerupuk. Kalau Bapak membeli kerupuk dagangan saya boleh, silakan. Tapi kalau Bapak sekadar memberikan uang, saya bukan pengemis.” Jawab laki laki tuna netra itu.
“Maafkan saya. Baik kalau begitu saya beli kerupuknya. Berapa harga kalau saya ambil dua kantongnya?” tanya Kang Fatih yang tersipu malu karena benar benar tidak menyangka.
“Satu kantong harganya lima belas ribu rupiah Pak. Kalau bapak ambil dua kantong jadi tiga puluh ribu rupiah.” Jawab laki laki tuna netra itu.
“Baik saya ambil dua kantong. Sisanya tidak perlu dikembalikan, buat akang saja,” kata Kang Fatih. Akan tetapi betapa terkejutnya karena tangannya masih dipegang oleh laki-laki yang tuna netra tadi. Dia mengatakan kepada kang Fatih, “Maaf Pak, sisanya kebanyakan. Sebentar saya kasih kembaliannya. Saya cukup dibeli kerupuknya saja. Terima kasih atas kebaikan bapak.” Dia menolak pemberian Kang Fatih. Tetapi Kang Fatih memaksanya untuk diterima sambil mengembalikan kembaliannya dan dimasukkan ke dalam saku baju yang tuna netra.
Betapa mulianya pribadi penjual kerupuk itu. Padahal kalau diperhatikan, fisiknya kecil, kedua matanya tidak dapat melihat, dan jalannya sedikit diseret seret, tetapi masih juga menolak pemberian. Sementara ada sebagian orang sudah diberikan rezeki cukup, pendapatannya besar, fisiknya sempurna, tetapi kadang tidak segan segan melakukan kekeliruan, berbuat kecurangan, merampas milik orang lain dengan tidak ada belas kasihan.
Subhanallah……
Mudah mudahan kebaikan dan kemuliaan yang tuna netra, Allah taburkan rahmat dan kemuliaan kepada seluruh umat dan sahabat sahabat kita.
Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan
Sabiluna, Sabtu 19 September 2020, pukul 09.19 WIB.


