Oleh : Ketua Umum MUI Provinsi Banten Dr H A M Romly
Disampaikan saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Lokakarya Pendidikan Akhlak Melalui Pentas Seni Budaya di MUI Banten, Kamis, 24 September 2020
SENI adalah bagian dari tamaddun. Sedangkan tamaddun merupakan upaya manusia yang dapat memberikan kepuasan secara lahiriah dan batiniah. la adalah manifestasi dari ruh, iradah dan amal dalam seluruh segi kehidupan insani. Dalam konteks ini, maka tamaddun Islam bermakna seluruh manifestasi ruh, iradah dan amal dari semua segi kehidupan insan muslim yang bersumber kepada ajaran Islam. Dengan kata lain tamaddun Islam merupakan pengejawantahan kreativitas dan aktivitas hamba Allah yang berhasil memadukan akal budi dan wahyu ilahi. [i]
Dengan bersumber pada ajaran Islam, sifat tamaddun menjadi universal. Karena para pendukungnya diikat oleh agama yang sama. Meskipun tradisi berbagai bangsa berbeda-beda, dengan ikatan agama yang sama, maka produk budaya yang dilahirkan akan mencuatkan nuansa lslami. Seorang sarjana bangsa Jerman, Ernst Kuhnel, menulis bahwa kesamaan kepercayaan agama (di dunia Islam) telah memengaruhi prestasi kultural bangsa-bangsa lebih kuat dibanding di dunia Kristen; ia telah menjembatani perbedaan dan tradisi nasional, dan ia tidak saja telah berhasil menarik perhatian rohani, tetapi juga telah mampu menuntun adat istiadat dan kebiasaan negeri-negeri kepada kesatuan tujuan yang sangat jelas. [ii]
Cakupan tamaddun Islam sendiri sudah tentu sangat luas, meliputi filsafat, ilmu, teknologi dan seni. Dalam sistematika filsafat, seni juga merupakan bagian dari cabang filsafat nilai keindahan atau estetika. Dengan cakupan makna tamaddun yang demikian luas, saya tentu saja tidak dapat membahas semuanya, karena keterbatasan ilmu dan sempitnya kesempatan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya akan membatasi kata sambutan hanya pada seni saja.
Al-Quran dengan jelas sekali menuntun umat Islam untuk menghargai dan menikmati keindahan. Keindahan yang nyata adalah alam semesta ciptaan Allah. Banyak ayat al-Quran yang mengarahkan manusia kepada pemandangan alam yang indah. Al-Quran melukiskan keindahan dengan makhluk-makhluk yang tidak asing bagi manusia, semisal gunung-gunung, lautan, hewan, tumbuh-tumbuhan dan penciptaan manusia sendiri. Hal yang demikian terus diulang-ulang. AI-Quran juga menyebutkan pakaian yang indah-indah selain berfungsi sebagai penutup aurat juga perhiasan yang sangat disenangi manusia. Pendek kata Islam ingin menanamkan ke dalam benak dan hati setiap muslim rasa keindahan, dengan keindahan yang ada di langit dan di bumi serta manusia itu sendiri.
Bukti ciptaan Allah berupa alam yang indah ini pasti dapat dilihat dan dihayati oleh seorang mukmin. Mereka juga akan mampu melihat keindahan Allah dari keindahan makhluk yang diciptakan dan dibentuk-Nya. Bahkan al-Quran sendiri adalah mukjizat keindahan selain sebagai mukjizat intelektual yang telah melumpuhkan keahlian bangsa Arab. Rasulullah sendiri menganjurkan agar membaca al-Quran dengan suara yang indah.[iii]
Oleh karena itulah, kata Dr. Yusuf al-Qardlawi, orang beriman menyukai keindahan dalam semua yang tampak dan yang ada di sekelilingnya, karena semua itu adalah jejak yang membekas dari keindahan Allah. Dia juga menyukai keindahan, karena “al-Jamil” (Mahaindah) adalah salah satu nama sifat Allah. Artinya, orang beriman menyukai keindahan, karena Tuhannya menyukai keindahan juga. Dialah Yang Maha lndah yang menyukai keindahan.
Seni adalah semua hal yang menimbulkan renjana3[iv] keindahan dan keharuan. Renjana tersebut melahirkan kesenangan dan bertujuan kesenangan. Oleh karena itu seni merupakan usaha menciptakan bentuk -rupa, suara, gerak, peran, tulisan- yang menyenangkan. Dalam konteks tamaddun Islam, karya seni didasarkan atas intuisi yang produktif sebagai alat yang mutlak perlu bagi idealisme transendental. Di sini karya seni bermakna hubungan etik dan estetik, hubungan kebaikan dan keindahan. Jadi seni adalah produk daya cipta manusia sebagai pantulan dari rasa kebaikan.
Dalam konsep Islam, keindahan dan kebaikan bersumber kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, causa prima, sebab utama dan sumber satu-satunya dari segala nilai keindahan dan kebaikan. Tiada satu pun yang telah dan akan mampu menyamai dan menandinginya dalam segala hal. Oleh karena itu Islam menolak gagasan seni hanya semata-mata untuk seni itu sendiri. Gagasan yang dikembangkan oleh filsuf Perancis, Victor Cousin (1792-1867) pada abad XIX dan sampai saat ini banyak pengikutnya, mempunyai semboyan yang terkenal I’art pour I’art (seni untuk seni). Menurut Kartini Pramono, pandangan menganggap bahwa seni merupakan deklarasi artistic yang idependen sebagai suatu tanggung jawab professional. Seniman ditempatkan sebagai suatu pribadi yang bebas dan terpisah dari kepentingan politik, ekonomi, sosial, dan agama.
Dalam Islam, seni tidak semata-mata untuk seni, melainkan harus senantiasa ada hubungannya dengan ibadah kepada Allah. Sebagaimana dikatakan Kartini Pramono bahwa lewat seni yang diajarkan oleh Islam, manusia dapat mengambil hikmahnya karena di dalam seni Islam terkandung ajaran bagaimana manusia itu harus bertingkah laku yang baik dan mensyukuri karunia Allah untuk lebih dekat dengan-Nya. Dalam kaitan ini kiranya sungguh tepat apa yang ditulis Roger Garaudy, bahwa dalam Islam semua seni membawa kita kepada masjid, dan setiap masjid membawa kepada shalat. Masjid, tempat shalat, pusat menyinarnya segala aktivitas umat Islam adalah titik pertemuan semua seni.4[v]
Karya seni yang didasarkan kepada konsep sentral ajaran Islam -tauhid -merupakan pengejawantahan nilai-nilai adikodrati. la merupakan penampakan wajah llahi di muka bumi yang indah, lembut, penuh kasih sayang dan kedamaian. Getaran-getaran halus ilahiyah dalam seni yang bernafaskan Islam akan meningkatkan kualitas iman dan takwa serta memantapkan sikap pribadi yang berbudi luhur dan berakhlak mulia. Kemudian secara sadar menyerahkan diri secara total kepada Rabb semesta alam seraya memantapkan jati diri sebagai seorang muslim.
Barangkali inilah yang mendorong Johann Wolgang von Goethe, yang dalam bukunya Oest-Westlichen Divan, menulis sajak:
Närrisch, daſs jeder in seinem Falle
Seine besondere Meynung preiſst!
Wenn Islam Gott ergeben heiſst,
Im Islam leben und sterben wir alle.
Alangkah bodoh, setiap orang dalam halnya
Memuji pendapat sendiri saja
Jika Islam bermakba kepada Tuhan berserah diri
Di dalam Islamlah (hendaknya) kita semua hidup dan mati
Sebagai konsekwensinya, sebagaimana tercatat dalam sejarah, maka berhala-berhala dihancurkan. Kemudian, untuk menjaga kemurnian tauhid, karya-karya seni rupa (seni lukis dan seni pahat) yang menggambarkan manusla, atau bahkan hewan diharamkan. Akibatnya para seniman muslim beralih kepada beberapa bentuk kesenian yang tersedia. Hasilnya ternyata sangat menakjubkan sampai dewasa ini. Lihat misalnya arsitektur masjid maupun istana, hiasan dinding dalam bentuk lukisan maupun mosaik dengan tema daun-daunan atau matematis dan benteng. Seni sastra juga mencapai mutu yang tinggi.
Namun hubungan dengan agama lain, misalnya umat Kristiani berlangsung baik dan penuh toleran. Umat Islam tidak pernah mengusik umat Kristen yang punya banyak ikon. Menurut Dr. Mudji Sutrisno SJ dan Prof. Dr. Christ Verhaak SJ, justru di kalangan umat Kristen sendiri berkembang rasa malu dengan begitu banyak ikon dan gambar di gereja-gereja dan tempat-tempat umum lainnya. Di samping itu masih ada suatu unsur dari dalam umat Kristiani, yakni rasa curiga di kalangan tertentu terhadap penghormatan ikon dan patung Kristus seakan-akan keilahiannya kurang diakui. Kelompok yang melawan ikon-ikon tersebut melakukan gerakan penghancuran ikon-ikon secara besar-besaran yang dalam sejarah dikenal dengan istilah ikonoklasme. Keadaan tenang baru tercapai lagi waktu dalam Konsili Nicea II (787) ikonoklasme ditolak dan sikap hormat pada ikon-ikon dinyatakan sesuai dengan iman Kristiani.
Dari uraian yang saya sampaikan tadi, perkenankan saya menyimpulkan, bahwa seni dan Islam mempunyai keterkaitan yang erat, keduanya bidang kehidupan rohaniah. Seni menyajikan alam imajinatif dan Islam menuntut pengalaman dan pengamalan yang kreatif konsisten (istiqamah). Gabungan keduanya akan mengejawantah dalam karakter dan sikap pribadi berbudi, enerjetik, berfikir investigatif serta berkarya produktif dan prestatif. Hal ini tentu saja akan merupakan sumbangan berharga dalam upaya membina insan muslim yang bermutu tinggi (khairu ummah). Semoga Allah senantiasa memberi kemudaan kepada kita dalam mensyiarkan agama kita!
[i] Die Gemeinsamkeit des religiösen Bekenntnisses hat hier stärker als in der christlichen Welt auf die kulturellen Leistungen der Völker eingewirkt; sie hat Rassenunterschiede und nationale Überlieferungen überbrückt und nicht nur die geistigen Interessen, sondern auch Sitten und Gebrauche der verschiedensten Länder in eine erstaunlich klare und einheitliche Richtung gezwungen.
[ii] Al-Quran, antara lain: S.Qaf:6; S.Hijr:16; S.an-Nam:7 dan 88; S.an-Nahl:6; S.at-Taghabun:3; S.al-Infithar;6-7; S.as-Sajdah:7; dan S.al-Muzammil:4. Selain Al-Quran terdapat juga Hadits dengan nada serupa.
[iii] Menimbulkan emosi, rindu, keinginan dan cinta kepada keindahan.
[iv] 4 En Islam tous les arts mènent a la mosquée et la mosquée à la prière. La mosquée, cette priere de piere, centre de rayonnment de toutes les activités de la communaute musulmane, est le point de convergence de tous les arts.



