Pentingnya Menjaga Persaudaraan Harus Terus Didengungkan

KOMISI Ukhuwah Islamiyah MUI Provinsi Banten menyelenggarkan Diskusi Diskusi Publik Peningkatan Ukhuwah Islamiyah Wathaniyah dalam Bingkai Dai Dalam Berdakwah Harus Menyejukkan Umat dan Memiliki Kompetensi di aula MUI, 9 Agustus 2022.

Sekretaris Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Provinsi Banten Efi Afifi mengungkapkan, ada berbagai alasan pihaknya mengadakan diskusi publik bertema itu. Antara lain saat timbul persoalan kebangsaan yang dipicu oleh disharmoni antara umat karena perbedaan persepsi tentang  kebhinekaan dan kebangsaan.

Bahkan, lanjuta dia, kuatnya kepentingan sektoral dan ego beberapa pihak yang merasa paling benar atas pemahaman dan tindakannya, merusak tatanan kebangsaan yang sudah berjalan dengan baik.

Menghadapi persoalan itu, Komisi Ukhuwah Islamiyah ingin berperan dengan  memberikan solusi atas persoalan yang muncul meluai pemikiran.

“Idealnya dalam bentuk focus group discussion sehingga bisa saling tukar pemikiran secara langsung sehingga melahirkan solusi yang terbaik baik umat dan ukhuwah islamiyah,” katanya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bangen Dr AM Romly saat menjadi narasumber tidak menafikan adanya pihak yang memanfaatkan agama untuk kepentingan politik, seperti pilkada dan pemilu.

Hal itu sulit dicegah. Namun harus  diimbangi dengan upaya yang gencar tentang pentingnya ukhuwah islamiyah.

“Ukhuawah islamiyah harus terus didengungkan, juga ukhuwah wathoniyah, ukhuwah  kebangsaan,” ungkap Romly. 

Ukhuwah atau persaudaraan, lanjut dia ada macamnya. Ukhuwah hakiki yaitu karena keturunan atau nasab. Kemudian ukhuwah majazi yaitu karena lingkungan kebangsaan, seagama, dan sekemanusiaan. 

“Banyak gangguan dalam persaudaraan ini. Perbedaan perbedaan yang sifatnya ikhtilaf, ya harus toleransi, misalnya soal takbiratul ihram. Kecuali jika terjadi penyimpangan, harus diamputasi. Tapi  bukan dengan cara kekerasan. Caranya dengan diberitahu supaya tidak terjadi,” ungkap Romly.

Soal ikhtilaf, Romly mengingatkan, jangan sampai karena berbeda pandangan, jangan sampai menuduh menyimpang. Karena perbedaan masing masing memiliki pegangan. 

“Ikhtilafi rohmatun. Perbedaan harus saling menghargai. Kalau tidak menghargai, hilang rohmahnya,” ungkap Romly.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Dr Amas Tadjudin menyoroti soal persoalan persoalan yang berujung mendiskreditkan Islam.

“Lebih dari 32 orang kasus terorisme yang ditangkap Densus dari wilayah hukum Provinsi Banten. Semua KTP-nya Islam. Tidak ada dari mereka yang mengatakan bukan Islam.  Tapi mengapa sesekali mereka takbir, berani membunuh orang.  Ini yang harus dicari, mengapa bisa terjadi. Apa akar maslahanya,” ungkap Amas.

Penyebabnya, menurut Amas, salah kaprah dalam memahami ajaran agama Islam. Bahkan tidak ada satu agama manapun yang mengajarkan terorisme. (Editor)