KOMISI Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Provinsi Banten mengadakan Seminar Pengkajian Tentang Isu-isu Islam Aktual bertema “Kontekstualisasi Nilai – nilai Pancasila Meneguhkan Wawasan Kebangsaan bagi Penceramah Agama Islam”, Kamis (25/8/2022), di aula MUI.
Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Banten KH Mahmudi saat membuka acara antara lain mengungkapkan prinsip – prinsip berdakwah, etika berdakwah, dan tantangan berdakwah.
“Seorang dai harus mampu mengajak, bukan mengejek. Merangkul bukan memukul. Membina bukan menghina.
Menyayangi bukan menyaingi.
Mendidik bukan menghardik.
Mencari solusi bukan mencari simpati. Berargumen bukan sentimen. Dan membela, bukan memecah belah,” ungkap Mahmudi.
Dalam kaitan itu, lanjut Mahmudi, seorang dai dalam berdakwah harus menyampaikan hal-hal yang menyejukkan umat. “Dai yang provokatif itu justru membuat masyarakat tidak kondusif,” ungkapnya.
Mahmudi juga menyinggung tantangan berdakwah dan gejolak yang timbul di masyarakat akibat dakwah yang tidak memperhatikan Islam wasathiyah. Kemudian tantangan banyak aliran-aliran sesat.
“Di Banten ada sekitar 50 aliran sesat. Yang muncul akhir akhir ini seperti di Kota Serang, langsung kita selesaikan,” ungkap Mahmudi.

Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat KH Ahmad Jubaidi MA saat menjadi narasumber juga menekankan pentingnya berakwah dengan materi yang dapat menyejukkan dan membawa umat kepada persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, para dai merupakan bagian dari pengendali di masyarakat. Apalagi di tengah masyarakat seperti Indonesia, ketaatan masyarakat terhadap pemimpin agama itu masih sangat tinggi.
“Artinya kepemimpinan kiai, ulama masih sangat dihormati oleh warga masyarakat kita. Maka apa yang dikatakan oleh para tokoh agama kita itu yang akan dianut oleh masyarakat,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Ahmad Jubaidi mengajak kepada para dai agar mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat agar masyarakat mampu menangkal paham paham yang ber yang bertentangan dengan falsafah negara Indonesia, seperti khilafah.
“Arab Saudi, Turki, Indonesia Malaysia, dan lain sebagainya merupakan negara-negara yang telah terbentuk dengan bentuknya masing-masing. Belakang ini ada yang mengusung hal-hal yang sesungguhnya itu masa lalu. Mencontoh hal-hal yang positif pada masa kekhalifahan itu bagus. Bisa dicontoh oleh Indonesia, dalam arti kebaikannya, sebagaimana kebaikan dinasti Abbasiyah dalam rangka membangun dunia dan pengetahuan,” ungkapnya.
Hal itu, lanjut dia, bisa dicontoh oleh orang Indonesia, tetapi tidak harus mengubah Indonesia “Dengan Pancasila, NKRI-nya, kita bisa meniru pada zaman Rasulullah,” ungkapnya.
Pada bagain lain, dalam pemahaman keagamaan ia juga menyarankan agar mendapatkan dari sumber-sumber yang muktabar. Memahami agama Islam secara esensi. Karena itu para dai dituntut memiliki kompetensi keilmuan dan keilmuan yang komprehensif.
“Bukan hanya satu dua persoalan saja. Memahami fikih, tauhid, tajwid. Kemudian ushul fiqh, dan lainnya. Jangan sampai tidak mengerti apa apa sudah ditampilkan ke publik dengan modal kelucuan saja. Kecuali memang memiliki keilmuan di bidang agama,” kata Jubaidi.
Narasumber lainnya yaitu Perwira Penghubung Kodim 064 Serang Letnan Kolonel Drs. H. Asep Sodikin MM. Ia juga berpesan kepada para dai agar mengajak masyarakat untuk menjaga kerukunan di masyarakat dan mempertahankan kedaulatan NKRI. (Editor )



