Yang Bagus Bukan Tanggalnya

Oleh: Nasuha Abu Bakar MA

Ada benang merah yang sangat tampak perbedaannya antara anak-anak remaja orde lama dengan anak anak remaja zaman sekarang, atau lebih dikenal dengan sebutan anak-anak milenial.

Di era tahun 60-80-an, anak-anak remaja yang sudah memasuki masa usia pernikahan, bilamana mereka mempunyai rencana untuk membangkitkan rumah tangga, mereka suka mendatangi orang yang dianggap tetua di keluarga. Suka bertanya-tanya kepada orang yang dianggap memiliki kewenangan untuk membaca tingkat kelayakan dan kecocokan. Biasanya ditanya tanya nama dan calonnya, kemudian dihitung setiap huruf, kemudian hurup huruf itu dihubungkan dengan nama calon pilihan pendamping. Setelah dihitung dengan rumus honocoroko, kemudian hasil angkanya dipasangkan dengan angka calon pasangannya. Ketika ada kecocokan maka biasanya dilanjutkan ke pelamin.

Bilamana ada satu dan lain hal, ataupun ada kendala dalam hitungan angkanya, suka suka diruwat, atau dilakukan kifarat sebagai tebusannya untuk menghilangkan kendalanya. Bahkan tidak sedikit pasangan suami-istri yang sebelumnya keduanya belum mengenali sacara mendalam. Akan tetapi karena kepatuhan kepada kedua orang tuanya, maka masalah itu hilang dengan sendirinya.

Anak-anak remaja zaman sekarang atau anak anak milenial ketika memasuki usia pernikahan, mereka juga disibukkan dengan hal hal yang bersifat sensasional, fragmatis dan kadang mencari yang fantastis. Sebelum melangsungkan ijab dan kabul, mereka sudah mengadakan sesi foto pra wedding, kadang tampilannya layaknya suami istri. Itu contoh yang sederhana. Contoh lainnya yang sangat sederhana tetapi banyak dilakukan calon calon pengantin di abad terkini. Misalnya menikah di tanggal 02 bulan Februari di tahun 2002, sehingga akan muncul angkanya 020202. Atau ijab dan kabulnya jam 8.00 pagi, tanggal 8 bulan delapan tahun 2008, sehingga akal muncul angka yang sensasional 8888 Dan di tanggal, bulan dan tahun seterusnya.

Di sinilah benang merah antara kedua generasi, generasi lama atau dengan sebutan lain orla (orang lama) lebih melihat kepada arti dan nilai sebuah pernikahan merupakan kehidupan yang sangat bermakna dan sakral, sehingga bukan saja mengandalkan rasa suka dan cinta, akan tetapi perlu ditelusuri dan difahami secara bathiniah sehingga dapat dilihat secara batiniah. Maka biasanya pernikahan orang lama cenderung lebih awet, relatif sedikit angka perceraian. Sementara itu, anak dan generasi milenial sepertinya sedikit menggunakan terawangan bathiniah nya, rumusan menghitung honocoroko tidak lagi dilirik. Mecing ataupun tidak itu tidak menjadi ukuran utama. Mereka lebih tertarik kepada yang lebih fragmatis, sensasional seperti keren penampilan nya, tajir kelihatannya, dan sukses secara material. Itulah barometer anak anak kita sekarang anak-anak milenial.

Yang kadang sangat mengejutkan dalam hal kelahiran anak, atau seorang wanita yang ingin melahirkan anak anaknya bisa diatur dan diprogram jam, tanggal, bulan serta tahun kelahirannya. Dengan enteng nya yang dirancang diagendakan dengan program kelahiran sesar, sehingga kelahiran anak bisa direncakan sebelumnya.

Orang-orang dulu kelahiran merupakan bagian kodrat kaum hawa yang tidak dapat ditolak kejadiannya. Akan tetapi kelahiran juga merupakan anugerah Allah bagi seorang ibu dan keluarga besarnya, sehingga peristiwa persalinan yang tidak dapat direkayasa, berjalan sesuai kodratnya.

Bagi kalangan tertentu, terutama anak anak kita yang hidup di abad 21 lebih tertarik dengan hal hal yang sangat fragmatis dan sensasional dari mulai mengutarakan rasa cintanya seperti di atas perahu di tengah tengah lautan, pernikahannya dengan model model tertentu, jam, tanggal bulan tertentu.
Itulah catatan pak ustadz Dzul Birri saat mendapatkan undangan taushiyah walimatuh “ursy, walimah pernikahan di masyarakat perkotaan.

Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.

Sabiluna, Sabtu 08 Agustus 2020, pukul 04.40 WIB.