Oleh Nasuha Abu Bakar MA
Sebenarnya rencana renovasi masjid di kampungnya Pak Ustad Dzul Birri sudah digagas sejak tahun 1990. Satu dan lain hal menjadikan rencana mulia itu tertunda. Hakikatnya perkenan Allah tertulis di lauhil mahfudznya pada tahun 1992.
Kwalitas kebersamaan dan sifat gotong royong dalam kehidupan di masyarakat pedesaan lebih kental. Dari sisi kebersamaannya ya. Akan tetapi terkadang semuanya ingin mempunyai andil. Ingin berperan, ingin berkontribusi dalam gagasan dan pemikiran, sehingga sering kali terjadi semuanya jadi insinyur. Mereka saking asyiknya dalam pola hidup kebersamaan suka melupakan struktur organisasi kepanitiaan. Padahal dalam struktur organisasi kepanitiaan pembangunan masjid sudah ada ketua, sekretaris, bendahara dan seksi seksi lainnya, termasuk kadang ada juga yang berpakaian seksi sekali.
Seorang tokoh sepuh di kampung itu awalnya sangat menentang terhadap rencana renovasi masjid yang digagas oleh Pak Ustad Dzul Birri. Alasannya sangat subyektif. Sekurang-kurangnya ada dua alasan yang sangat prinsip. Pertama beliaulah satu satunya dari keluarga waqif (orang yang menyerahkan hartanya untuk digunakan kepentingan, perjuangan menghidupkan agama). alasan yang kedua, beliau menganggap remeh terhadap pribadi Pak Ustad Dzul Birri yang memang secara ekonomi tidak bisa dikategorikan mampu, sehingga beliau diragukan kemampuannya.
Akan tetapi setelah bangunan masjid semakin terlihat bentuk dan modelnya, sesepuh itu tiba -tiba mendatangi kediaman Pak Ustadz Dzul Birri, sambil menyerahkan uang sebesar satu juta rupiah. Di wajahnya terlihat sangat terharu, memuji kerja keras Pak Ustad Dzul Birri yang dianggapnya anak baru kemarin sore, yang tidak sejengkal pun punya tanah sawah.
“Ini uang satu juta rupiah, uwa serahkan untuk pembelian keramik, tolong keramik uwa dipasang di tempat imam salat. Jangan dipasang di mana-mana. Pokoknya di tempat imam salat.” Pesan uwa Minan, panggilan akrabnya.
Namanya juga Pak Ustad Dzul Birri, nylenehnya gak ketinggalan walaupun yang di hadapannya orang yang pernah mau menyantetnya gara-gara bangunan masjid lama dibongkar.
“Di tempat imam salat sudah terpasang keramiknya. Yang belum ada biayanya tempat wudu, keran dan kabel-kabel untuk instalasi listrik. Amal yang besar pahalanya adalah amal sesuai yang dibutuhkan. Mobilnya ada, kuncinya ada, bahan bakarnya juga ada, Tapi pentil penahan angin di ban tidak ada. Maka pentil itulah yang mahal harganya,” kata Pak Ustad Dzul Birri dengan tenang nya.
Para santri, fakir, miskin dan duafa mempunyai hak hidup sepanjang hari. Hari Jumat, hari Sabtu, hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu dan Kamis. Kalau trend Jumat berbagi, maka siapakah yang Senin dan Selasa berbagi rezeki menghapus duka, Sabtu dan Ahad peduli umat, Rabu dan Kamis bantu umat jangan menangis. Insya Allah pintu amal kebaikan yang mengarah lurus menuju pintu syurga dibuat setiap hari, tidak hanya hari Jumat.
Selamat berbagi di hari hari biasa selain hari Jumat.
Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan
Jum’at, 7 Agustus 2020 jam 05.05



