
SERANG – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten Dr H A M Romly MA M.Hum mengungkapkan bahwa dakwah masa kini harus mampu merespons perkembangan masyarakat yang semakin dinamis.
“Sangat penting untuk terus meng-up date kondisi masa kini. Saya mengucapkan terima kasih kepada Komisi Dakwah yang terus meng-up date persolalan-persoalan terkini dan isu isu yang berkembang di masyarakat,” ujar Romly saat sambutan pembukaan acara Workshop Pedoman Dakwah Pada Masa Pandemi yang dilaksanakan Komisi Dakwah dan Pengembangan Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten, Selasa (29/9). Acara bertema Memperkuat Akidah, Ibadah, Dakwah, Ekonomi Kreatif pada Masa Pandemi ini diikuti perwakilan Komisi Dakwah MUI kabupaten dan kota di Banten, takmir musala dan masjid, serta perwakilan ormas Islam di Banten.
Dalam kaitan dakwah kekinian, kata Romly, dirinya membuat buku buku berjudul Menjaga Aqidah Agar Faham Komunis Tidak Merabah. Buku tersebut saat ini masih dalam proses pencetakan di Yogyakarta. “Sedang dalam proses cetak. Buku itu akan dibagikan kepada MUI di Banten, MUI di Indonesia, dan ormas ormas Islam,” ungkap Romly.

Sebagai tahap perkenalan dan untuk dikaji, Romly memberikan buku tersebut kepada Ketua Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Banten H M Rasna Dahlan dan Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Banten KH Sulaeman Ma’ruf masing-masing satu eksemplar.
Mengenai pedoman dakwah, kata Romly, pedoman dakwah itu ada di setiap agama. Dakwah di Islam dalam rangka mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah swt sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran. “Dakwah dengan mau’idzah hasanah. Dakwah secara lembut,” ungkapnya.
Sebagaimana Islam masuk ke Indonesia, lanjut Romly, para dai saat itu berdakwah sambil berdagang. Mereka mengakomodasi sementara budaya-budaya masyarakat setempat sehingga tidak menimbulkan gejolak. “Dakwah harus mempertimbangan situasi dan kondisi,” jelas Romy.
Pada kesempatan itu Ketua Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Banten H M Rasna Dahlan mengungkapkan, metodologi dakwah yang disajikan para dai atau mubalig pada dasarnya hampir sama. Namun pada kondisi pandemic Covid-19 harus memperhatikan dan menerapkan protokol kesehatan.
“Saat ini kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan massa banyak, termasuk misalnya ceramah agama, tidak boleh,” ungapnya.
Kegiatan kegamaan dengan jumlah terbatas, lanjut dia, harus menerapkan protokol kesehatan. Jaga jarak, cuci tangan, dan pakai masker.
Dalam kegiatan ceramah keagamaan di pelosok-pelosok perkampungan, Rasna mengharapkan kepada para pemuka agama agar memberikan edukasi atau informasi supaya masyarakat memahami tentang betapa pentingnya memperhatikan protokol kesehatan. (EDT)


