“Ashabul Kahfi” Generasi 4C

ILUSTRASI: Gua Ashabul Kahfi di Amman Yordania. Foto: ammancity.gov.jo/republika.co.id.

Oleh: Ahmad Sihabudin, Ketua Komisi Infokom MUI Banten dan Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta

Maka janganlah putus asa, jangan pula putus asa, karena kamu lebih unggul jika kamu beriman (QS. Al-Imran 3:139)

 DALAM pandangan Islam pemuda yang baik, adalah yang berkarakter Ashabul Kahfi dan beriman. Pemuda Ashabul Kahfi akan mendapat kemuliaan di mata Allah. Dengan keyakinan dan keimanan tersebut kita akan selalu diawasi oleh Allah. Jadi kita akan malu untuk bermaksiat meskipun tidak ada manusia yang melihat.

Hari Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi kemarin, adalah momentum yang perlu dimanfaatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berdampak bagi agama, bangsa, dan negara.

Dalam konteks Islam, pemuda di sini merupakan kelompok masyarakat yang peka dan paling cepat merespons keadaan terutama dalam dakwah Islam. Mereka adalah agen dari perubahan. Bahkan, jika ingin memajukan suatu bangsa dan negara, yang perlu diperjuangkan dan diberikan kepercayaan, adalah para pemuda, (mui.or.id).

Posisi pemuda dalam Islam sangat penting. Kata ‘pemuda’ dalam Alquran disebutkan sebagai sosok yang memiliki mental tangguh berani melawan kebatilan, seperti Ashabul Kahfi yang dikisahkan menolak ajakan Raja Dikyanus untuk menyembah berhala. Kisah 7 pemuda yang bersembunyi di dalam gua selama 309 tahun ini disebutkan dalam Alquran dengan kata ‘fityah’ (para pemuda) sebagai berikut, (islam.nu.or.id):

Dalam Alquran dan sunnah, pemuda menjadi pembicaraan terutama perannya dalam kehidupan dan berjuang di jalan Allah. Pemuda harus menjadi pribadi yang mampu membuat tatanan hidup masyarakat menjadi lebih baik, disebutkan, adalah kata fityah atau para pemuda, bukan siapa pun. Allah SWT berfirman: “Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka, adalah pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami menambahkan petunjuk kepada mereka,” (Q S Al Kahfi ayat 13).

Posisi pemuda dalam Islam sangat penting. Kata ‘pemuda’ dalam Alquran disebutkan sebagai sosok yang memiliki mental tangguh berani melawan kebatilan, seperti Ashabul Kahfi yang dikisahkan menolak ajakan Raja Dikyanus untuk menyembah berhala. Kisah 7 pemuda yang bersembunyi di dalam gua selama 309 tahun ini disebutkan dalam Alquran dengan kata ‘fityah’ (para pemuda) sebagai berikut, (islam.nu.or.id):

Dalam Alquran dan sunnah, pemuda menjadi pembicaraan terutama perannya dalam kehidupan dan berjuang di jalan Allah. Pemuda harus menjadi pribadi yang mampu membuat tatanan hidup masyarakat menjadi lebih baik, disebutkan, adalah kata fityah atau para pemuda, bukan siapa pun. Allah SWT berfirman: “Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka, adalah pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami menambahkan petunjuk kepada mereka,” (Q S Al Kahfi ayat 13).

Menurut berbagai mukan oleh YouTube. Gen C adalah connected generation atau gerenasi yang selalu terkoneksi. Mereka gemar membuat konten (creation), mengurasi konten (curation), serta membangun komunitas daring dan intens dengan aktivitas digital (connected). “Gen C bisa berusia dari 15 sampai 70 tahun. Usia 70 tahun masuk generasi ini bila mereka selalu terkoneksi dengan internet”.

Untuk memasuki pasar ASEAN saat ini siapa pun tak terkecuali terelebih pemuda, mutlak diperlukan memiliki kompetensi ‘4C’. Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Creativity and iInovation. Empat kompetensi ini harus dibina baik dalam pendidikan di perguruan tinggi maupun pada tingkat SMA.

Fenomena dan prediksi bonus demografi menjadikan peran pemuda akan menjadi sangat besar dalam rangka menuju Indonesia Emas. Semoga tidak sebalik menjadi beban negara. Presiden pertama Indonesia Soekarno pernah berkata, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia”.

Betapa pentingnya pemuda untuk sebuah kemajuan. Dalam Alquran selain menyinggung kisah Ashabul Kahfi sebagai pemuda tangguh, ayat Alquran juga banyak mengisahkan sosoksosok pemuda lain yang memperjuangkan kebenaran pada masanya seperti Nabi Isa, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan nabi-nabi lainnya. Dalam ayat lain, Allah SWT juga menyinggung masa muda sebagai fase kondisi fisik yang kuat, berbeda dengan fase pertumbuhan sebelumnya, yaitu masa kanak-kanak atau masa setelahnya, yaitu masa tua.

Dalam Alquran dijelaskan: “Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah. Kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa,” (QS. Ar-Rum [30]: 54). Mari terus bergerak “Ashabul Kahfi” Generasi 4C, untuk membangun agama, bangsa, dan negara kita. *

Artikel ini sudah terbit di Koran harian Kabar Banten, edisi Senin, 7 November 2022