Ketua Umum MUI Provinsi Banten Dr. H. AM Romly MA, M.Hum hadir dan memberikan ceramah pada acara lepas sambut kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten, Jumat (5/3) pagi.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten yang baru, Dr. H. Nanang Fatchurochman, M.Pd, sebelumnya menjabat Kepala Biro Administrasi Umum Akademik dan Keuangan IAIN Kendari. Sementara Dr. H. A. Bazari Syam, M.Pd yang menjabat Kepala Kanwil Kemenag Banten dari tahun 2016-2021 mendapat jabatan baru sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Keduanya dilantik oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di Jakarta pada Selasa (2/3) lalu bersama sejumlah pejabat perguruan tinggi agama Islam negeri lainnya.
Romly berceramah layaknya stand up comedy di televisi swasta. Penuturannya yang diselingi guyonan membuat Kakanwil, kepala Kemenag Kabupaten dan Kota, serta tokoh agama yang hadir tertawa.
Mengawali ceramahnya, bercerita tentang Kaswil. Istilah Kaswil ini terucap saat Bazari mengawali kata sambutan di awal acara.
Mungkin sebagian besar yang hadir tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Kaswil. “Tadi ada istilah Kaswil, tanyakan dulu kepada orangnya mau gak disebut Kaswil. Kalau saya memang ada sejarahnya,” ungkap Romly.
Romly pun bercerita dirinya di Kemenag, Jakarta, pernah menjabat Direktur Pembinaan Haji. Setelah tidak lagi mejabat, ada temannya tetap menyapa Pak Direktur dan sepertinya tak biasa menyebut nama langsung.
“Saya bilang saja, sebut saja saya Pak Kasdir. Apa itu Kasdir? Ya bekas direktur,” ungkap Romly, para tamu undang pun tertawa mendengar keterangan itu.
Kemudian sejarah Kaswil, Romly yang pernah menjabat Kepala Kanwil Kemenag Banten dari tahun 2005-2011, memperkenalkan kepala Kanwil yang baru sebagai penggantinya kepada Gubernur Banten yang kala itu dijabat Ratu Atut Chosiyah. “Waktu itu Bu Gubenur masih manggil saya Kakanwil. Saya bilang, Bu saya bukan Kakanwil lagi. Kalau Ibu kagok nyebut nama, sebut saja saya Kaswil. Apa itu? Ya bekas Kakanwil,” ungkap Romly yang lagi lagi membuat tamu tertawa.
“Jadi sebutan itu buatan saya sendiri. Meskipun seperti julukan pejoratif, tapi buatan sendiri. Humor namanya. Humor itu hakikatnya menertawakan diri sendiri kan,” lanjut Romly.
Ketua Umum MUI Provinsi Banten dua periode ini bersyukur dan memberikan dukungan kepada Kepala Kanwil Kemenag Banten yang baru.
“Alhamdulillah kita sambut Kakanwil baru yang berasal dari Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat,” ungkap Romly.
Menurutnya, pejabat yang berasal dari wilayah Cirebon jika mendapatkan tugas ke Banten sama saja dengan pulang kampung.
Pernyataan ini menanggapi ungkapan Kepala Kanwil Kemenag Banten yang merasa Banten dan Cirebon sebagai kampung halamannya sendiri.
“Betul Pak, dari Cirebon ke Banten berarti sama saja dengan pulang jampung. Dulu ada Pak Ahmad Dofiri jadi Kapolda Banten. Saya bilang ke beliau, kalau ke Banten itu pulang kampung Pak Jenderal. Sekarang Pak Dofiri jadi Kapolda Jabar,” ungkap Romly.
Pada kesempatan itu Romly bercerita tentang awal menjadi kepala Kanwil Kemenag Banten.
Sebagai warga yang lahir di daerah pelosok Lebak, Romly mengaku jarang sekali ke Serang karena menjalani pendidikan dimulai dari Bogor dan Jakarta
“Sering main ke Sukabumi, Bandung. Jadi Banten ini gelap. Pas saya ditugaskan ke sini cuma satu orang saja yang kenal di sini. Yaitu Pak Ubik Baihaqi. Yang lainnya tidak kenal meski orang Banten. Daerahnya juga tidak kenal,” ungkapnya.
Suatu waktu, ada rekan dari Jakarta mau ke Baros dan menanyakan rute setelah keluar dari pintu tol Serang Timur. Romly pun memandunya via telepon agar melewati Jalan Sudirman, kemudian ke Jalan Ahmad Yani. Setelah di Jalan Ahmad Yani, terus cari saja jalan ke Pandeglang.
“Pas datang dan ketemu di Baros, orang itu marah. Dia bilang, gimana sih, Tol Serang Timur terus, Sudirman terus. Lalu saya bilang saja, saya juga gak tahu Jalan Sudirman di mana, Jalan Ahmad Yani di mana. Jadi seperti itu,” kata Romly.
Dia pun merasa prihatin saat mendapatkan mtugas ke Banten sebagai kepala Kanwil Kemenag. Banten baginya asing.
Selain asing, ada juga tantangannya.
Pada suatu ketika, ada orang yang dapat dikatakan sirik terhadap dirinya dan melakukan suatu kegiatan yang tidak baik. Informasi itu diperoleh dari seorang staf.
Setelah bertanya ke staf, memperoleh jawaban bahwa maksud tujuan orang tersebut agar Romly sebagai kepala Kanwil Kemenag Banten apes.
“Wah… kalau begitu ke saya gak bakalan mempan,” kata Romly.
Mendengar jawaban seperti itu, stafnya bertanya soal ilmu apa yang dimiliki Romly sehingga tidak bakal mempan “diapesi” orang.
“Saya bilang, saya di sini sudah apes duluan. Jadi gak bakalan mempan. Kalau tidak apes, saya terus saja jadi direktur di sana kan,” ungkap Romly guyon.
Awal karier sebagai Kepala Kanwil Kememag, Romly meraskan suasana batinnya prihatin sekali. Apalagi dalam kondisi memprihatinkan juga. Namun ia bersyukur karen menjabat kepala Kanwil Banten sampai merasa bosan.
“Sudah empat tahun, lima tahun tapi tidak dipindah-pindah. Akhirnya saya minta pindah. Kalau minta jabatan struktural itu tidak mungkin. Akhirnya saya minta jabatan fungsional saja. Akhirnya pindah jadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tujuh tahun di sana sampai pensiun. Maunya jadi profesor tapi gak nyampe ilmunya,” ungkap Romly terkekeh.
“Saya ucapkan selamat datang kepada Pak Kanwil. Kami semuanya mendukung, mendoakan, dan semuanya membantu,” kata Romly. (Edt)



