Oleh: H. Khatib Mansur, Pengurus ICMI Banten
Boleh jadi, bila para mubaligh, da’i, ulama, kyai dan cendekiawan bukan karena kewajiban menyampaikan amanah dalam berdakwah, terutama menyampaikan pesan-pesan kandungan Al-Quran dan Hadits serta kewajiban berbuat baik kepada siapapun atau menyampaikan larangan berbuat kejahatan agar tercipta hidup rukun, aman dan damai, mungkin mereka sudah bosan dan lelah karena apa yang disampaikan dalam kegiatan dakwah seakan-akan tidak didengar seiring dengan banyaknya kasus kejahatan.
Dalam kegiatan dakwah di berbagai tempat para undangan yang mendengarkan pada umumnya tidak hanya masyarakat biasa, akan tetapi banyak juga dihadiri oleh orang-orang yang punya kedudukan di lembaga pemerintah dengan pangkat dan jabatan yang berbeda, para politisi, pelaku usaha, profesional baik laki-laki maupun perempuan, termasuk mahasiswa, pelajar, santri, guru dan lain sebagainya.
“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan peringatan yang baik, (Q.S. An-Nahl: 125). Dalam firman-Nya yang lain, Allah SWT memuji manusia sebagai ummat yang baik. “Kamu adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, yaitu menyuruh orang berbuat kebajikan dan mencegah berbuat kejahatan, serta beriman kepada Allah SWT, (Q.S. Ali Imron: 110).
Manusia pada mulanya hidup rukun, bersatu dalam satu agama, sebagai suatu keluarga. Tetapi setelah mereka berkembang biak dan setelah kepentingan mereka berlain-lainan, timbullah berbagai kepercayaan yang berdampak perpecahan. “Mereka saling berselisih satu dengan lainnya”, (Q.S. Yunus: 19). Oleh karena itu, Allah SWT mengutus rasul yang membawa wahyu untuk memberi petunjuk kepada mereka. “Semua itu terjadi karena manusia saling dengki di antara mereka sendiri”. (Q.S. Al-Baqoroh: 213).
“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka perbaikilah dengan tangan (kekuasaan). Jika tidak mampu dengan tanganmu, perbaikilah dengan perkataan (dakwah), jika tidak mampu, perbaikilah dengan hati berharap adanya perbaikan, dan itulah keimanan yang paling lemah”. (H.R. Muslim).
Fenomena perselisihan manusia itu bukan terjadi saat ini saja. Kenyataan itu adalah sesuatu yang dirasakan adanya (sensible) sejak berabad-abad lamanya yang berdampak kesengsaraan rakyat akibat dominasi ekonomi, penegakan hukum kadang tak adil dan kekuasaan politik yang kurang transparan. Ummat manusia mulai melakukan perhitungan (intelligible) dan mencari solusi dengan diskusi, dialog, dakwah termasuk pendalaman penguasaan ilmu pengetahuan.
Skema penguasaan ilmu pengetahuan bagi bangsa-bangsa di muka bumi ini tidak lepas dari tiga aspek, yakni aspek ekonomi, hukum dan politik. Karena dari ketiga aspek itulah rawan penyalahgunaan wewenang, dan eksploitas terhadap sumber daya alam (SDA) apabila tidak dipagari dengan penegakkan hukum demi keadilan.
Praktik itu ada sejak abad XV Masehi, saat itu dunia Barat sudah mengalami kemajuan di bidang perdagangan (commersial revolution), di bidang industri (industrial revolution) dan bidang pelayaran (maritim revolution), sehingga mereka mengembara ke berbagai negeri agraris dengan tujuan dagang. Slogan mereka adalah: “Jangan menghalangi kemajuan”.
Dengan kemampuannya, dunia Barat melakukan penjajahan – terutama Belanda terhadap Indonesia – mengeruk SDA dan pemerasan manusia terhadap manusia (exploitation de l’homme par l’homme). Dari sinilah awal kehancuran peradaban ummat manusia, karena seakan-akan meniadakan hubungan transenden antara manusia dengan kekuasaan Allah SWT Yang Maha Pencipta.
Keluhuran Akhlak.
Menurut penyelidikan sejumlah orientalis Barat terhadap keluhuran budi pekerti (uswatun hasanah) Nabi Muhammad s.a.w., antara lain disampaikan oleh Tolstoi yang menyatakan, tidak usah diragukan lagi bahwasanya Nabi Muhammad s.a.w., memang sebesar-besar manusia di muka bumi yang berkhidmat kepada perikemanusiaan dengan pengkhidmatan yang mulia. Cukuplah jadi kebanggaan baginya, karena beliau telah sanggup membawa satu ummat kepada cahaya kebenaran (nurulhaq) dan mengajaknya supaya masyarakat senang dengan kehidupan damai tentram. Beliau pantas menerima penghormatan dan penghargaan.”
Senada dengan itu, Goustave Le Bon menyatakan Islam senantiasa sesuai dengan hasil penyelidikan ilmu pengetahuan zaman baru. Nabi Muhammad s.a.w., sanggup memperbaiki budi pekerti yang telah rusak, menganjurkan perbuatan baik, menegakkan keadilan dan memaafkan kesalahan lawan.
“Kitab suci Al-Quran tersiar dengan alasan cukup, bukan dengan paksaan. Itulah yang menyebabkan bangsa-bangsa tertarik kepada beliau dan tuntunan Islam, sehingga bangsa-bangsa itu telah dapat bersatu di bawah satu aturan, sesudah bangsa Arab sebagai bangsa Turki dan bangsa Mongol.
Sementara itu pendapat singkat cukup lugas juga disampaikan oleh R.V.C. Bodley, ia menyatakan dalam ajaran Islam segala sesuatu dalam alam ini adalah kepunyaan bersama. Tak ada di sana harta kepunyaan diri sendiri. Islam menjelaskan dengan terang, orang miskin mempunyai hak atas harta orang yang kaya.
Islam menyebar ke sejagat bumi bukan dengan pedang, bedil, meriam dan senjata api lainnya. Akan tetapi, Islam datang untuk menyempurnakan keluhuran akhlaq ummat manusia ke jalan yang benar, berganti dari zaman jahiliyah (kebodohan) ke zaman terang benderang dari pancaran nur Ilahi (Al-Quran) dan sunnah-sunnah Nabi Muhammad s.a.w.
Keluhuran akhlaq Nabi Muhammad s.a.w., itulah jawaban dari kerusakan moral ummat manusia di belahan bumi ini, oleh pengaruh paham Barat yang materialistis dan kapitalis. Bahkan Nabi Muhammad s.a.w., pun berdakwah kepada sejumlah raja/kaisar, seperti Raja Makaukis di Mesir, Raja Heraclius di Romawi, Raja Najasyi di Ethiopia, Raja Maqauqis di Mesir agar mereka mengakui ke-Esaan Tuhan dan kembali ke jalan yang benar.
Tetap Sejuk
Kegiatan dakwah sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya di Banten ini, karena sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat secara umum. Di era sekarang ini ada media baru, yakni medsos melalui jaringan internet.
Ketua Umum MUI Banten, Dr. H.A.M. Romly yang diwakili oleh Wakil Ketua Bidang Kemasyarakatan MUI Banten, Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd, saat membuka diskusi bertema: “Kegiatan Dakwah Melalui Jejaring Internet”, Senin (7/12), menyatakan kemajuan teknologi informasi di era Industri 4.0. tidak dapat dicegah, namun perlu dibarengi dengan kegiatan dakwah yang santun dan menyejukkan suasana.
Seberapa efektif dan efisienkah dakwah dengan metoda virtual di masa pandemi Covid-19 ini? Tentu saja sangat membantu, karena pertimbangan kedaruratan dan keselamatan jiwa setiap orang sebagai dampak dari virus mematikan itu. Namun, tentu saja dakwah virtual masih ada kekurangan dari segi teknis dan lain sebagainya. “Peserta diskusi sebagian besar dari MUI Banten, guna menambah referensi dalam berdakwah secara virtual, termasuk ibu-ibu kader da’i dari Griya Asri Dalung Serang,,” kata Ketua Panitia, K.H. Shodikin, S.Ag, M.Si.
Prof. Dr. H. Ahmad Sihabudin, M.Si, dalam paparan diskusi Dakwah berjudul: “Dakwah Era Digital”, menyatakan media televisi yang ada di Indonesia mendekati angka 100 televisi, atau mungkin lebih. Menurutnya, lahirnya media baru telah membuka peluang banyaknya saluran komunikasi yang tumbuh dari bawah.
Platform media baru antara lain: facebook, twitter, blog, WhatsApp, YouTube, email, BB, chatting dan lainnya. Karakteristiknya interaktif, one to one, many to many, one to many, akses yang terbuka dan otonom, setara, bebas dari gatekeeper, cepat, dan umpan baliknya bersifat langsung, non diskriminasi, dan partisipatif.
“Kita tidak dapat berbohong di media sosial, harus terbuka, jujur, dan otentik di segala hal, termasuk dalam menyampaikan dakwah”, ujarnya.
Kegiatan dakwah di jejaring medsos, menurut Prof. Dr. H. Zakaria Syafei, M.Pd, yang mengangkat judul: “Sosiologi Dakwah”, menyatakan dakwah era internet jauh lebih praktis, cepat dan murah, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini. “Namun para da’i harus tetap memahami kondisi masyarakat, dan memilih kata yang bijak, serta harus menunjukkan kecintaan kepada audien/pemirsa,” ujar Sekretaris Umum MUI Banten ini.
Sementara itu, K.H. Zaenal Abidin Syuja’i, Lc, dalam diskusi itu mengangkat “Tantangan Dakwah di Banten”. Ini menyangkut local wisdom (kearifan lokal), karena di Banten ini dikenal sebagai masyarakat kyai, santri dan jawara yang secara umum paham tentang ilmu agama. “Tujuan dakwah itu cukup sederhana, hanya sebagai peringatan karena manusia kadang khilaf dan salah,” katanya.
Menurut Zaenal, tantangan dakwah di Banten ini cukup berat karena karakter masyarakat Banten adalah basis ulama, kyai dan jawara yang dikenal dengan goloknya. “Jangan sampai menginggung perasaan hawatir golok keluar. Tapi, selama ini tidak pernah terjadi. Orang Banten itu baik hati dan mau mendengar nasihat ulama atau kyai”, selorohnya disambut senyum hadirin. Ia menambahkan dakwah virtual harus tetap menyejukkan hati dan pikiran masyarakat, tidak boleh profokatif,”.tegasnya.
Dakwah virtual lebih praktis dan cepat menyebar luas. Oleh karenanya, materi yang disampaikan harus lebih baik. Keberhasilan dakwah – baik virtual maupun tatap muka – harus dimulai dari diri sendiri setiap da’i (Q.S. Ar-Ra’ad: 11) sebagai contoh teladan, karena mengubah mindset masyarakat lewat pesan-pesan dakwah menjadi lebih baik itulah tujuan dakwah rahmatalil ‘alamin.[*]




