Silat Hijaiyyah Mengeja Hingga Mengejawantahan

Tubagus Najib Al-Bantani (tengah) menjadi narasumber pada acara lokakarya.

Oleh : Tubagus Najib Al-Bantani

Naskah ini disampaikan pada acara Lokakarya Pendidikan Akhlak Melalui Pentas Seni Budaya di MUI Banten, Kamis, 24 September 2020

Pendahuluan

Lokakarya MUI mengangkat Tema Perkembangan Seni Budaya Islam di Banten. Apakah seni Budaya Islam itu berkembang?  Ada dua garis besar jawaban, yaitu jawaban hasil kajian dan berdasarkan dari pengamatan. Seni budaya, menurut para ahli dibedakan atas beberapa kelompok, yaitu; seni musik, seni rupa, seni tari, seni sastra dan seni teater.

Keanekaragaman seni budaya Banten yang telah ada secara turun temurun di antaranya; Angklung Buhun, Beluk, Bandrong Lesung, Calung Renteng, Cokek, Debus, Dogdog Lojor, Gacle, Dzikir Saman, Terbang Gede, Topeng Sempilan/Wewe, Ubrug, Kendang Penca, Kuda Kepang, Mawalan, Marhabanan, Patingtung, Yalil, Wawacan Syeh, Qasidah, Rudat, Rampak Bedug (Subdin Kebudayaan Dinas Provinsi Banten)

Bagaimana perkembangan seni musik Islam di Banten? Bagaimana perkembangan seni rupa di Banten? Bagaimana perkembangan seni tari di Banten? Bagaimana perkembangan seni sastra di Banten dan bagaimana perkembangan seni teater di Banten? Hal itu yang diperlukan suatu kajian, apakah kajian dari pemerintah liding sektornya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau kajian yang dilakukan oleh kampus untuk tugas akademisnya.

Seni budaya Islam, apakah yang mendapat pengaruh ataukah yang berisi ruh Islam? Tentang pengaruh ini amat luas, karena Banten telah terjadi kontak budaya asing, namun yang utama peran wong Banten, mengisi dengan ruh Islam.

Dalam catatan Sejarah dan Arkeologi, Banten mampu memfilter dan mengisi dengan Ruh Islam. Contoh pada seni rupa, yang terdapat di situs Masjid kuna Banten Lama, di Tanara, Kanari, Kansyuntan dan sebagainya, pada bagian kemuncak atap masjid terdapat momolo atau mastaka, momolo susun tiga, bagian dasar itu disebut Padama, tingkat kedua Kuduma dan tingkat ketiga disebut lotus. Namun telah disetelir dalam bentuk sulur-sulur, pada seni hias pada trakota, temuan dari situs Banten Lama, hiasnya berbentuk tumpal, makana tumpal pada masa sebelum Islam itu berarti kesuburan, pada masa Islam hias tumpal masih dilanjutkan namun maknanya yang berubah menjadi kerukunan atau mukarnas.

Ruang lingkup tema tersebut, salah satunya akan mengangkat tentang Silat Hizaiyyah, sebagai bentuk seni budaya Islam yang tak benda. Silat Hizaiyyah ini nama yang diusulkan oleh Bidang Pembinaan Seni Budaya Islam MUI Banten, adalah nama jurusnya, karena jurus-jurusnya menggunakan nama-nama huruf dalam bahasa Arab, seperti; Alif, Ba, Ta dan seterusnya. Sedangkan nama peguronnya adalah Ki Dudut, nama ini diambil dari nama pendirinya Ki Dudut.

Maksudnya adalah untuk mengungkapkan proses silat yang fungsi awalnya adalah untuk memperkenalkan ajaran Islam melalui bacaan al-Quran, dengan cara mengeja huruf-hurunya dan dalam perkembangan berikutnya mengejawantahan menjadi Pergerakan Perlawanan dalam menghadapi penindasan, penjajahan dan kejahatan lainnya.

Tujuannya adalah untuk merekonstruksi silat di Banten, untuk mendukung gerakan magrib mengaji, khususnya pada kalangan milenium, untuk mengembalikan Banten sebagai pusat studi Al-Quran, agar silat masuk dalam kurikulum pendidikan. Sumber refrensi yang ditelusuri adalah foklor dan silsilah, pada studi kasus di Desa Kaloran.

Rekonstruksi Silat Hizaiyyah

Awal silat hizaiyyah diperkenalkan oleh Ki Dudut. Siapa KI Dudut tersebut? Dan apa arti Dudut tersebut. Arti Dudut dalam kamus bahasa Sunda berarti mencabut, dan dari bahasa Jawa berarti menarik keluar (mencabut keluar).

Mencabut atau menarik ke luar. Dalam jurus-jurus Ki Dudut, ada yang namanaya jurus”Ta”, tewak tanam. Menewak kaki, diangkat ke atas, kepala dalam posisi di bawah, diteken, sementara kaki di angkat, menekan dan menarik kaki ke atas, seperti membelah bambu, bambu akan terbelah

menjadi dua bagian. Inilah jurus mematikan dari Silat Ki Dudut. Sehingga dikenal dengan Ki Dudut.

Sebenarnya siapa nama Ki Dudut tersebut? Berdasarkan sumber foklor yang berkembang di masyarakat, bahwa nama Ki Dudut adalah Tubagus Saleh. Berdasarkan silsilah Kesultanan Banten, Tubagus Saleh merupakan generasi keempat dari Sultan Abdul Mafakhir Muhammad Aliuddin. Pada Masa Ki Tb. Saleh, fungsi telah berkembang sebagai pengejawantahan, ikut andil dalam mengusir kolonial, muncul Peguron-Peguron.

Jurus-Jurus Silat Hizaiyyah

Berdasarkan laporan dari IPSI Provinsi Banten,, bahwa jumlah peguron silat di Banten sekitar 500 Peguron. Namun dari 500 peguron tersebut, yang menggunakan nama jurus dari nama-nama Hizaiyyah adalah Peguron Ki Dudut. Kaitan dengan Seni Budaya Islam di Banten, Peguron Ki Dudut berperan tidak hanya mendukung program pemerintah untuk Magrib Mengaji, juga berperan untuk membela diri, bangsa dan negara dari kezaliman-kezaliman, kemungkaran, penindasan dan kejahatan-kejahatan lainnya.

Huruf-huruf dalam bahasa Arab sebanyak 30 huruf, antara lain;

.د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه لا ء ي خ ا ب ت ث ج ح

Dari ke 30 huruf, sebagian hurufnya diambil untuk kode jurus-jurus PPSK. Sepertiا ب ت ث ج د ر ق .

Kode huruf Alif, ada tiga jurus, jurus alif Siji ( jurus kesatu), jurus alif Roro (jurus kedua, jurus alif telu ( jurus ketiga). Kode huruf Ba, nama jurusnya, jurus Bendung Satu (jurus keempat) dan Bendung Dua (jurus kelima). Kode huruf Ta nama jrusnya, jurus Tewak Siji (jurus keenam), jurus Tewak roro ( jurus ketujuh), jurus Tewak telu ( jurus kedelapan). Kode huruf Ta nama jurusnya, jurus Tempog Siji (jurus kesembilan), jurus Tempog roro (jurus kesepuluh). Kode Sha, nama jurusnya, Selembar Siji (jurus kesebelas). Kode hurf Ja, nama jurusnya jurus Jambret Siji ( jurus kedua belas), Jurus Jambret Roro( jurus ketiga belas). Kode huruf Da, nama jurusnya jurus Depok (jurus keempat belas), jurus Serampang Depok (kelima belas).

Lalu jurus Gisik, (jurus keenam belas) jurus Gibrik, ( jurus ketujuh belas) jurus Gunting, (jurus kedelapan belas), jurus Potong, (jurus kesembilan belas) jurun Kokang, (jurus kedua puluh) Jurus Ruji Siji,( jurus kedua puluh satu) jurus Ruji Roro, ( jurus kedua puluh dua) jurus Puser ( jurus kedua puluh tiga) dan jurus Sepak Mawur ( jurus kedua puluh empat). ( sumber Tb. H. Bahtiar).