Oleh; Nasuha Abu Bakar MA
Kata masjid berasal dari bahasa Arab yang diambil dari akar kata sajada -yasjudu-sajdan” berbentuk isim makan menunjukkan nama tempat sujud. Masjid sebagai tempat berkumpulnya umat Islam untuk melakukan kegiatan ibadah salat lima waktu, salat Jumat, salat idul Fitri, salat tarawih, dan salat Idul Adha.
Di samping mengurusi masalah ibadah mahdhah, masjid juga menyediakan waktu dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas keilmuan jamaah pada khususnya, masyarakat pada umumnya. Diharapkan dengan diisi kegiatan kajian kajian sedapat mungkin masyarakat dapat melakukan perubahan perubahan kepada yang lebih positif.
Pada umumnya, di masyarakat ada kecenderungan yang sangat kuat, yaitu kecenderungan lebih memprioritaskan kepada pembangunan fisik, sehingga terjadi perlombaan kemegahan bangunan menjadi skala prioritas. Akibatnya, masjid yang bangunan nya biasa biasa saja ada perasaan kurang PeDe. Padahal bagus, mewah bangunan bukan menjadi standar dan ukuran suksesnya organisasi pengurus masjid. Akan tetapi suksenya sebuah masjid pada saat mampu merespons, mengakomodir dan memfasilitasi harapan serta keinginan jamaah dan masyarakat.
Masjid sebagaimana dimaklumi bersama merupakan satu bangunan hasil kerja sama masyarakat secara bergotong royong. Panitia, pengurus dan takmir masjid hanya sebatas sebagai penanggung jawab management, pengatur dan pengelola. Pengelola kewenangannya hanya sebatas mengelola untuk lebih makmur kegiatannya, lebih besar syiar dan manfaatnya bagi masyarakat umum.
Menurut Pak Ustad Dzul Birri ada musibah besar bagi masjid ketika dikelola oleh pengurus dan takmir yang seolah olah masjid itu seperti milik sendiri sehingga kegiatan dan syiar masjid disesuaikan dengan selera internal mengabaikan keinginan serta semangat masyarakat. Keinginan masyarakat terkadang diabaikan tanpa dipelajari lebih jauh tentang azas manfaat serta kemaslahatan umat dan masyarakat. Sehingga terkesan masjid seperti milik satu kelompok bahkan terkadang terjadi dominasi personal. Padahal masjid memiliki hak untuk dimakmurkan dengan sendi sendi ketakwaan agar terbentuk hamba hamba yang berkepribadian soleh dan solehah. Atau dengan kata lain orang orang yang mencintai kesucian. Suci raga, suci pikiran dan suci jiwa.
Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan
Pamulang, MUI, Ahad 23 Agustus 2020 pukul 13.33)



