Tiga Upaya Iblis Memperdaya Umat

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Syeikh Nashr bin Muhammad bin Ibrahim Assamarqandy bercerita bagaimana upaya iblis memperdayai umat manusia. Kisah ini diambil dari dialog Nabi Musa dengan Iblis la’natullah yang konon awalnya iblis minta tolong kepada Nabi Musa untuk disampaikan kepada Allah permohonan taubatnya.

“Wahai Musa, Allah telah memilih dan mengangkatmu menjadi salah seorang utusan-Nya, engkau juga pernah berbincang bincang dengan-Nya, sedang aku (iblis) hanya makhluk biasa. Aku berencana ingin tobat supaya diampuni oleh Allah,” kata iblis kepada Nabi Musa.

Tentu saja Nabi Musa mendengar rencana taubatnya iblis sangat senang dan gembira. Seketika Nabi Musa berwudhu dan shalat (beribadah) mendekatkan diri kepada Allah, tentu saja sesuai dengan syariat beliau pada saat itu.

Sebagai jawaban atas permohonan Nabi Musa, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa supaya memerintahkan kepada iblis agar sujud (memberi penghormatan) kepada kuburnya Nabi Adam. Kalau iblis setuju dan berkenan, maka diampuni dosanya. Begitulah kira kira pesan wahyu Allah kepada Nabi Musa.

Iblis sangat tersinggung dan marah seketika muncul kembali kesombongannya.
“Ketika Adam masih hidup pun aku menolak untuk sujud memberi penghormatan kepadanya, lalu bagaimana mungkin aku akan sujud kepadanya setelah dia mati. Walaupun demikian, aku berhutang kepadamu atas usaha baikmu memohonkan ampunan kepada Allah untukku,” kata iblis dengan angkuhnya tanpa ada sedikitpun perasaan bersalah.

Lebih lanjut iblis berpesan kepada nabi Musa dengan tiga perkara. “Engkau wahai Musa selalu ingat lah tentang aku (iblis) ketika engkau mengalami tiga kejadian.

Yang pertama, pada saat engkau marah, karena aku pada saat engkau marah merasuk dan menjalar pada aliran darahmu. Sehingga engkau hanyut di dalam murka dan amarah mu. Putuskan dengan kalimat tauhid Kaa ilaaha illaallaah”.

Yang kedua, ingat lah aku (iblis) pada saat engkau di Medan pertempuran menghadapi musuh, karena aku pada saat itu akan membujukmu untuk kembali ke rumahmu karena disana kau tinggalkan isteri, keluarga, harta benda dan anak anak yang engkau cintai sampai engkau berbalik arah mewurungkan niat sucimu.

Yang ketiganya, waspadalah engkau saat menemani dan duduk bersama dengan seorang wanita yang bukan mahrammu, ingatlah wahai Musa, karena kedudukanku merupakan mediatormu kepadanya supaya aku dapat melumpuhkan jiwa raganya sehingga dia menyerahkan segala galanya kepadamu, dan menjadi utusannya supaya dapat menundukkan dirimu menjadi laki laki yang tidak berdaya.

Tiga upaya yang ditiupkan oleh iblis sepertinya kian dahsyat pengaruhnya terhadap kehidupan dan prilaku umat, sehingga sering kali kita menyaksikan baik langsung ataupun melalui layar kaca, medsos dan surat kabar peristiwa dan kejadian yang memicu permusuhan antar kelompok, suku, ras bahkan satu nasab dan satu garis keturunan. Ini kan sangat memprihatinkan sekaligus sangat memilukan.

Semoga dengan tulisan ringan dan sederhana ini dapat melapangkan hati sanubari yang hampir setiap detik diprovokasi “ketidaksimpatian” terhadap orang ataupun pihak lain yang kadang hanya sekedar berbeda warna baju, karena khilafiyah, atau warna politik lokal dan internal.

Itulah pesan Pak Ustadz Dzul Birri beberapa hari yang lalu kepada jemaah beliau.

Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan

Pondok Pinang, Ahad 6 September 2020, 11.11 WIB