Memahami Pesan Langit

Oleh: Nasuha Abu Bakar MA

Bagaikan tumbuh jamur di musim hujan reaksi publik baik terhadap pernyataan Menteri Agama RI di Kabinet Indonesia Maju yang muncul dari lisan perorangan, kelompok organisasi masyarakat, tokoh tokoh pemerhati pendidikan, kalangan pondok pesantren dan anggota DPR.

Tentu saja pernyataan Pak Menteri Agama tidak tanggung tanggung membuat masyarakat muslim menjadi terhentak, sangat terkejut bagaikan disambar petir di siang bolong.

Terlepas apakah pernyataan pak Menteri agama itu telah “digoreng” atau belum oleh publik yang pasti sangat menyinggung perasaan umat Islam, khususnya para pecinta Al-Quran. Rencana Kementerian Agama akan melakukan sertifikasi kepada para mubaligh dan dai untuk menyaring dan memfilter para dai, para huffadzul Quran dari pengaruh pengaruh radikalisme ini akhirnya ditafsirkan sebagai bentuk kecurigaan, tidak difahami sebagai langkah jaga-jaga  karena adanya kekhawatiran yang sangat besar.

Dengan disebut istilah “gagal faham” oleh Pak Ali Taher dari Komisi VIII DPR RI, Pak Menteri Agama menyikapi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan beragama masyarakat sehingga sering melontarkan istilah istilah kontroversial. Dan komoditinya tidak jauh dari radikalisme yang di alamatkan kepada umatnya sendiri. Mengarahnya anggapan radikalisme kepada para huffadzul Qur’an, para dai dan pondok pesantren membuat perasaan kaum sarungan ini seakan akan dikuliti hidup-hidup.

Ketika saya coba sowan ke Pak Ustadz Dzul Birri dan mencoba mengorek ngorek suara batin beliau apa sesungguhnya fitnah yang sedang terjadi di bumi pertiwi tercinta ini.

“Allah subhaanahu wata’alaa azza wajalla mempunyai kewenangan yang sangat absolute, tanpa memandang apapun dan tidak menilik siapapun. Apa saja yang terjadi tidak luput semuanya dari rencangan dan rencana Allah sehingga daun-daun yang berguguran dari batang dahan pohon pun demikian. Akan tetapi manusia diberikan akal dan pikiran supaya tidak pasrah begitu saja dengan segala macam kejadian supaya kalau bentuknya kesusahan dapat diminimalisir. Bila kejadiannya yang baik dan menguntungkan supaya dapat dilipat gandakan nilai manfaat dan kegunaannya,” kata Pak Ustadz Dzul Birri

Lebih lanjut beliau mengatakan,
walaupun kita penduduk bumi akan tetapi harus bisa dan mampu memahami bahasa langit. Biasanya bahasa langit Allah mengkomunikasikannya melalui peristiwa alam seperti tsunami, gempa, banjir, wabah Corona, kemarau panjang, gagal panen termasuk juga gagal faham.

Maka menurut hemat saya umat Islam memperjuangkan agama dan keyakinannya tidak lagi berharap sepenuhnya dapat dipercayakan kepada Kementerian Agama. Di pelosok negeri, masyarakat bawah dan pedalaman tidak mampu disentuh oleh Kementerian Agama. Biarkan Kementrian Agama mengurusi bagiannya sendiri.  Umat Islam harus berjuang sungguh sungguh menebarkan nilai nilai manfaat kepada masyarakat luas. Allah dengan bahasa langit-Nya sedang mengajarkan kepada hamba hamba-Nya supaya masing masing melangkah, berbuat dengan tampilan “Islam yang rahmatan lil’alamin” dan tidak perlu menunggu Pak Menteri Agama mengatakannya. Islam wasathiyah menjadi ikon bagi para wali di tanah Nusantara memperkenalkan Islam.

Orang baik akan selalu menebar kebaikan, orang mulia akan menebarkan kemuliaan, orang sholeh akan membangun kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia. Salah ucap, terpeleset lidah hal biasa, tidak mampu memahami bahasa keadaan sesuatu yang wajar. Manusia yang baik yang berusaha memperbaiki kesalahannya. Itulah pesan pak Ustadz Dzul Birri kepada saya di akhir bincang bincang kami.

Wal ‘iyaadzu billah min syuruuri anfusinaa wa min syuruuri anfusinaa

Sabiluna, Rabu 9 September 2020, pukul 07.07