{"id":345,"date":"2020-09-07T11:38:00","date_gmt":"2020-09-07T04:38:00","guid":{"rendered":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/?p=345"},"modified":"2020-09-18T10:38:43","modified_gmt":"2020-09-18T03:38:43","slug":"salah-niat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/salah-niat\/","title":{"rendered":"Salah Niat"},"content":{"rendered":"\n<p><br>Oleh:<strong> Kholid Ma\u2019mun<\/strong><br><em>Pendidik di Ponpes Modern Daar El Istiqomah Kota Serang. Pengurus ICMI Orwil Banten dan Pengurus MUI Provinsi Banten<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini setiap manusia memeliki peran yang berbeda-beda, di antaranya ada yang menjadi tukang bangunan, petani, pendidik, dokter, ustaz, pedagang, dan lain-lain. Namun demikian peran apapun yang dilakoni oleh manusia bukanlah menjadi suatu masalah, karena pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan Allah Swt. Mereka mempunyai peran yang sama yaitu untuk menjadi hamba yang baik dan taat terhadap apa yang telah diperintahkan dan dilarang-Nya.<br><br>Dari berbagai macam peran yang disandang manusia, semua berpotensi untuk meraih rida Allah yang kelak di akirat akan mendapat balasan pahala dan surga, maka agar manusia tidak salah dalam mengabdikan diri kepada Allah, manusia diberi bimbingan dan tuntunan yang mampu mengantarkannya menuju kepada jalan yang benar, yaitu Al-Qur\u2019an dan Hadis yang dibawa oleh Rasul untuk disampaikan kepada umatnya.<br><br>Rasulullah Muhammad SAW. Pernah mengungkapkan cerita ilustratif tentang tiga kelompok orang (sebagai gambaran dari sekian banyak jenis kelompok manusia) yang di akhirat kelak akan mendapatkan siksa paling awal dari Allah SWT. Rasul bersabda, \u201cBesok pada hari kiamat ada tiga kelompok orang yang pertama kali disiksa oleh Allah. Mereka adalah yang ketika di dunia justru diagung-agungkan oleh manusia. Sahabat-sahabat yang hadir dan mendengar penjelasan Rasul bertanya, \u201cSiapa mereka ya Rasulullah?, \u201cRasul menjawab, \u201ckelompok pertama yang disiksa oleh Allah adalah para mujahid\/ pahlawan \u201d orang yang di dunia dianggap sebagai pahlawan atau mujahid. Para pahlawan ini dipanggil oleh malaikat dan ditunjukkan nikmat yang akan diterima oleh orang-orang yang benar-benar berperang (mati syahid) karena Allah. Orang ini merasa sangat senang. Akan tetapi malaikat mengatakan, \u201cTempatmu bukan di situ. Sebab niatmu berjuang pada saat di dunia dulu bukan karena Allah, tetapi ingin dipuji dan disanjung oleh orang dan dianggap pemberani, pahalawan, diperingati tiap tahun, atau ingin dianugerahi bintang jasa. Keinginan dan targetmu itu sudah tercapai di dunia. Di akhirat ini bagianmu sudah habis. \u201cLalu aku akan dimasukkan di kelompok mana, malaikat?\u201d, kata orang itu. \u201cYa di neraka bersama orang-orang yang memiliki niatan sama sepertimu. Jawab Malaikat.<br><br>Kelompok kedua, kata Rasul adalah orang yang di dunia dianggap sebagai ulama, sahabat penasaran, \u201cUlama yang bagaimana ya Rasul?\u201d. Jawab Rasulullah, \u201cUlama-ulama yang merasa dengan ilmunya telah berbuat lebih dari orang lain. Mengajar orang, menasehati orang, mendirikan lembaga pendidikan dan berdakwah di mana-mana. Padahal yang terjadi sebenarnya dia hanya menginginkan kepopuleran dan menunjukkan kepintarannya kepada masyarakat, ingin dihormati dan dipuji oleh masyarakat. Semua niatnya itu sudah tercapai, tetapi dia lupa tanggung jawbnya kepada Allah SWT. dan tidak ikhlas dalam mengerjakan perbuatannya.<br><br>Pada saat dibangkitkan dari kubur, pada yaumul ba\u2019ats, dia dipanggil dan dikumpulkan oleh Malaikat bersama ulama-ulama yang ikhlas, kepadanya ditunjukkan pahala amal-amal ulama yang benar dan tempat-tempat yang seharusnya mereka peroleh (surga). Dia dengan senang hati berkata, \u201cTerima kasih Malaikat, memang pada saat di dunia dulu saya mengerjakan perbuatan itu dengan harapan memperoleh pahala seperti yang dijanjikan Allah. Jadi wajar kalau saya dapat pahala seperti ini\u201d. Tapi apa kata Malaikat? \u201cnanti dulu, tempatmu tidak di situ. Sebab niatmu mengerjakan perbuatan-perbuatan itu karena ingin popular, dijunjung tinggi dan ingin dipuji orang lain, kamu sudah menerimanya di dunia. Kamu tidak pernah niat menjalankan perintah Allah secara ikhlas. jadi targetmu hanya di dunia dan di akhirat ini kamu tidak dapat apa-apa. Tempatmu bukan di surga, tapi di neraka\u201d. Menurut hadis ini, ia akhirnya di tempatkan di neraka bersama dengan ahli neraka yang lain. Naudzu billah<br><br>Kelompok ketiga, adalah orang yang pada waktu di dunia dikenal kaya, pemurah, banyak jasa, dermawan. Ketika di akhirat oleh malaikat ditunjukkan pahala dan kenikmatan yang akan diperoleh oleh orang yang memang kaya, dermawan dan ikhlas menafkahkan hartanya karena Allah, demi kepentingan umat dan bangsa. Dia sangat gembira dan merasa pasti bersama kelompok orang-orang tersebut. Tetapi malaikat juga menolak orang ini. Kata malaikat, \u201cTargetmu menafkahkan harta itu bukan ikhlas, melainkan karena ada kepentingan-kepentingan tersembunyi agar kamu diumumkan di Koran atau diwawancarai di televisi, diberi penghargaan, dan dianggap dermawan. Semua sudah kamu dapatkan sewaktu di dunia. Sekarang di akhirat bagianmu sudah tidak ada lagi. Kamu tidak berhak masuk ke kelompok ini. Tempatmu di neraka\u201d.<br>Hadis ini dengan jelas menggambarkan bahwa Mujahid, Ulama dan Dermawan yang tidak memenuhi syarat karena tidak lulus dalam menghadapi ujian berupa ilmu, popularitas, kekuasaan, atau kekayaan akan mengalami kebangkrutan di akhirat.<br>Redaksi asli dari hadis di atas bisa kita lihat dalam kitab hadis Shahih Muslim yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah ra. Yang artinya kurang lebih:\u201d Sesungguhnya manusia pertama yang diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Dia dihadapkan, lalu Allah menunjukkan kenikmatan-kenikmatanNya kepadanya, maka dia pun mengenalnya. Allah bertanya, \u201capa yang telah kamu lakukan padanya? \u201cOrang itu menjawab,\u201dAku berperang karenaMu sehingga aku mati syahid\u201d. Allah berfirman:\u201dKamu dusta!, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan fulan pemberani, dan itu telah kamu dapatkan. Kemudian diperintahkan (agar dia diseret di atas wajahnya). Lalu dia pun diseret di atas wajahnya sampai dicampakkan ke dalam neraka. Selanjutnya Rasulullah Saw. Melanjutkan sabdanya, \u201cberikutnya orang yang diadili adalah orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur\u2019an, ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Kemudian Allah menanyakannya, amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu? Ia menjawab \u201caku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta serta aku membaca Al-Qur\u2019an hanyalah karena Engkau, Allah berkata: \u201cengkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Qur\u2019an supaya dikatakan serang Qari\u2019 (pembaca Al-Qur\u2019an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu). Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparnya ke dalam neraka. Rasulullah Saw. Menceritakan orang selanjutnya, yang pertama kali masuk neraka, berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya, apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu? Dia menjawab, \u201caku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau. Allah berkata: \u201cEngkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu). Kemudian diperintahkan (Malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka\u201d. (HR. Imam Muslim).<\/p>\n\n\n\n<p>Penjelasan tentang kisah di atas juga bisa kita lihat keterangannya dalam tafsir Al-Qurthubi, tepatnya ketika menjelaskan surat Al- Kahfi ayat 110. Bahkan Allah juga telah menjelaskan dalam firmanNya yang lain, seperti yang tertuang dalam surat Al-Kahfi ayat 103 dan 104. Allah Swt. berfirman: \u201c katakanlah Muhammad \u201capakah perlu kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya?. Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.<br>Semoga tulisan ini menjadi sebuah pelajaran dan pengingat bagi kita agar lebih berhati-hati dalam mengerjakan amal kebaikan, supaya kita terhindar dari apa yang telah Rasulullah contohkan dalam hadist di atas terhadap tiga kelompok yang salah dalam memasang niat, padahal mereka adalah orang-orang yang mempunyai amalan baik dan juga bermanfaat untuk orang banyak, namun karena disebabkan niat yang salah dalam berbuat sehingga mereka tidak mendapatkan rida dan pahala dari Allah. Semoga kita diselamatkan oleh Allah dan aktifitas yang kita kerjakan mendapat rida-Nya. Amiin.<br><br>Wallahu Alam Bisshawab<br><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Kholid Ma\u2019munPendidik di Ponpes Modern Daar El Istiqomah Kota Serang. Pengurus ICMI Orwil Banten dan Pengurus MUI Provinsi Banten Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini setiap manusia memeliki peran yang berbeda-beda, di antaranya ada yang menjadi tukang bangunan, petani, pendidik, dokter, ustaz, pedagang, dan lain-lain. Namun demikian peran apapun yang dilakoni oleh manusia bukanlah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":379,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[6],"class_list":["post-345","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-beret","tag-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/345","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=345"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/345\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":380,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/345\/revisions\/380"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=345"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=345"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=345"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}