{"id":341,"date":"2020-09-08T15:29:00","date_gmt":"2020-09-08T08:29:00","guid":{"rendered":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/?p=341"},"modified":"2020-09-09T07:32:53","modified_gmt":"2020-09-09T00:32:53","slug":"mui-banten-gelar-diskusi-implementasi-moderasi-beragama-terhadap-siswa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/mui-banten-gelar-diskusi-implementasi-moderasi-beragama-terhadap-siswa\/","title":{"rendered":"MUI Banten Gelar Diskusi Implementasi Moderasi Beragama Terhadap Siswa"},"content":{"rendered":"\n<p>SERANG &#8211; Majelis Ulama Indonesia (MUI)) Provinsi Banten menggelar forum diskusi tentang Implementasi Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan Terhadap Siswa, Selasa (8\/9). Acara dihadiri oleh 60 orang yaitu perwakilan MUI, pengawas madrasah, kepala madrasah, dan guru pendidikan agama Islam (PAI).<br><br>Acara yang dibuka oleh Ketua Umum MUI Provinsi Banten AM Romly itu menghadirkan tiga narasumber yaitu Kepala Kanwil Kemenag Banten A Bazari Syam, Guru Besar UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Prof Syibli Syarjaya, dan Sekretaris Umum MUI Provinsi Banten Prof Zakaria Syafei.<br><br>Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Provinsi Banten Machdum Bachtiar selaku penyelenggara forum diskusi mengatakan, kegiatan forum diskusi ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan.<br><br>&#8220;Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab,&#8221; ungkap Machdum saat acara pembukaan.<br><br>Machdum menegaskan, tugas guru selain melakukan tugas pendidikan, pengajaran, dan bimbingan, juga harus mampu membentuk good moslem dan good netizen. Kemudian guru juga harus memiliki misi keislaman dan kenegaraan. &#8220;Misi keislaman itu membentuk siswa yang menguasai rukun iman dan rukun Islam. Misi keislaman itu memperkenalkan Islam yang santun, damai, toleransi, ramah , dan moderat,&#8221; ungkapnya.<br><br>Sedangkan misi kenegaraan, kata Machdum, yaitu membentuk siswa yang memiliki rasa cinta tanah air (wathaniyah), mencintai sesama warga negara yang berbeda (insaniyah), dan mencari sama agama yang berbeda aliran (islamiyah). Kemudian membentuk siswa yang memiliki pemahaman bahwa negara Indonesia berpilarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai unity in diversity yang tidak dapat dipisahkan. Misi kenegaraan juga membentuk siswa yang moderat, tidak ekstrem.<br><br>&#8220;Beragama itu hakikatnya berindonesia. Berindonesia itu beragama,&#8221; kata Machdum.<br><br>Pada kesempatan itu, Ketua Umum MUI Provinsi Banten AM Romly menyatakan bahwa implementasi moderasi beragama terhadap siswa yang disampaikan melalui pengawas, kepala madrasah, dan guru PAI itu sangat penting.<br><br>Diskusi implementasi moderasi beragama, kata Romly, sesuai dengan Islam Wasathiyah yang diusung oleh MUI dan sebagau upaya yang bersifat antisipasi.<br><br>&#8220;Kalau sudah antisipasi semoga memiliki benteng yang kuat. Tidak terombang-ambing oleh pandangan ekstrem. Dapat mencerna informasi secara kritis,&#8221; ungkap Romly.<br><br>Menurut Romly, pandangan ekstrem itu antara lain merasa pandangan dirinya yang paling benar dan yang lain salah.<br>Pandangan lain yang diajarkan akan selalu dilecehkan.<br><br>&#8220;Peran guru guru sangat penting. Para pengawas harus bisa menengarai terhadap tindakan-tindakan intoleransi dan tindakan kekerasan yang mungkin bisa terjadi,&#8221; katanya. (Edt)<br><br><br><br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SERANG &#8211; Majelis Ulama Indonesia (MUI)) Provinsi Banten menggelar forum diskusi tentang Implementasi Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan Terhadap Siswa, Selasa (8\/9). Acara dihadiri oleh 60 orang yaitu perwakilan MUI, pengawas madrasah, kepala madrasah, dan guru pendidikan agama Islam (PAI). Acara yang dibuka oleh Ketua Umum MUI Provinsi Banten AM Romly itu menghadirkan tiga narasumber [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":342,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-341","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-beret"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=341"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":343,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341\/revisions\/343"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/342"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}