{"id":332,"date":"2020-09-04T19:56:00","date_gmt":"2020-09-04T12:56:00","guid":{"rendered":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/?p=332"},"modified":"2020-09-08T06:58:19","modified_gmt":"2020-09-07T23:58:19","slug":"keinginan-berbeda-dengan-ketentuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/keinginan-berbeda-dengan-ketentuan\/","title":{"rendered":"Keinginan Berbeda dengan Ketentuan"},"content":{"rendered":"\n<p><br>Oleh Nasuha Abu Bakar MA<br><br>Di antara anugerah Allah untuk manusia adalah mempunyai &#8220;keinginan&#8221;. Dengan adanya rasa &#8220;keinginan&#8221; manusia akan selalu berinovasi supaya &#8220;keinginan&#8221; dapat diperoleh, diraih dengan upaya dan usahanya.<br><br>Dengan adanya &#8220;keinginan&#8221; manusia akan berdaya upaya akan mengerahkan kualitas personalitinya untuk memperoleh dan meraup sebuah &#8220;keinginan&#8221; bahkan kadang menggunakan energi secara massal supaya &#8220;keinginan&#8221; itu mudah didapat dan tercapai.<br><br>Sebagai manusia biasa seringkali melupakan status dirinya yang memiliki batas kemampuan. Dengan hartanya kadang manusia merasa segalanya. Bisa mengatur dengan harta dan kekayaan, yang penting semuanya lancar dan mulus demi mencapai sebuah &#8220;keinginan&#8221;. Belum tentu demikian. Tidak semua &#8220;jeinginan&#8221; bisa didapatkan walaupun menurut akal manusia besar peluang dan kesempatannya. Pak ustadz Dzul Birri pernah mengatakan kepada jemaah pengajian malam Jumat Kliwonannya.<br><br>&#8220;Makhluk yang ada di alam semesta ini, termasuk kita manusia di dalamnya diciptakan sangat lengkap perangkatnya. Ada alat untuk mendengar namanya telinga, ada alat untuk melihat mata namanya, ada alat untuk berkomunikasi mulut namanya, dan yang lainnya. Dan termasuk &#8220;keinginan&#8221; itupun ciptaan Allah sebagai implementasi dari sifat Allah &#8220;Al Mushawwiru, Al &#8216;Aalimu&#8221; menunjukkan maha pandainya Allah subhaanahu wata&#8217;alaa azza wajalla, sehingga manusia mempunyai berbagai macam &#8220;keinginan&#8221;.<br><br>Dalam ilmu tauhid dikenal istilah &#8220;ta&#8217;alluq&#8221; yang maknanya &#8220;berkaitan, bersandar, terhubung&#8221;. Yang kadang kita manusia belum memahami bahwa &#8220;keinginan&#8221; berta&#8217;alluq, bersandar kepada yang namanya &#8220;ketentuan&#8221; dalam ilmu tauhid disebut &#8220;taqdir&#8221; Allah. Seorang ibu curhat kepada saya, ingin sekali satu satunya anak laki-laki nenguasai ilmu agama karena ibu ini seorang ustadzah. Untuk mencapai keinginannya ibu ini memasukkan putranya ke pendidikan Islam yang cukup terkenal, soal biaya tidak diragukan. Hanya beberapa bulan saja putranya pulang dan tidak mau kembali. Dimasukkan kembali ke pondok klasik cukup masyhur juga, tetapi hanya beberapa pekan saja, pulang kandang. Keinginan ibunya sangat bagus dan mulia, akan tetapi keinginan yang mulia ini tidak tergolong yang memperoleh &#8220;restu&#8221; dengan &#8220;ketentuan&#8221; Allah.<br><br>&#8220;Ada seorang pengusaha sukses sakit, dengan pengalamannya yang sering pulang pergi ke luar negeri sehingga keputusan tempat berobatnya di luar negeri. Dia pilih rumah sakit yang terkenal, dokternya yang spesialis dan profesional. Persoalan ongkos dan biayanya tidak dipersoalkan karena memang uangnya cukup bahkan lebih banyak. Menurut akal dan logika kita manusia sangat memungkinkan penyakitnya dapat disembuhkan. Tetapi pulang hanya tinggal nama, innaa lillaahi wa inna ilaihi raji&#8217;uun. Keinginan itu tidak dibungkus oleh &#8220;ketentuan&#8221;.<br><br>Ada juga pasangan suami istri, sudah hampir sepuluh tahun belum mendapatkan karunia anak, usaha dan ikhtiarnya lahir batin. Sudah maksimum usaha dan perjuangannya, akan tetapi belum ada tanda-tanda nya. Atas saran dan pendapat dari beberapa sahabat dan kerabat, akhirnya mencoba program bayi tabung. Berita gembira itu datang, program bayi tabung sepertinya akan ada hasilnya, karena pihak rumah sakit menyatakan ada tanda-tandanya. Usianya hanya 4 bulan, setelah itu gugur harapan besar melalui program bayi tabung.<br><br>Ada pengajaran yang sangat berharga bagi kita manusia, supaya belajar memahami batasan batasan wilayah makhluk, bahwa manusia memiliki keterbatasan kemampuan, walaupun manusia berkuasa, berilmu dan berharta tapi itu semua hanya pemberian dan titipan sesaat, tidak patut meng-aku-inya seakan-akan mutlak milik nya sehingga menggunakan dengan semena-mena. Na&#8217;uudzu billaah min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati &#8216;amaalinaa. Begitulah penjelasan Pak Ustadz Dzul Birri.<br><br>Wallaahu&#8217;alamu bish shawaab wa ilahil musta&#8217;aan<br><br>Pondok Aren, Rabu 02 September 2020, 16.55 WIB.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Nasuha Abu Bakar MA Di antara anugerah Allah untuk manusia adalah mempunyai &#8220;keinginan&#8221;. Dengan adanya rasa &#8220;keinginan&#8221; manusia akan selalu berinovasi supaya &#8220;keinginan&#8221; dapat diperoleh, diraih dengan upaya dan usahanya. Dengan adanya &#8220;keinginan&#8221; manusia akan berdaya upaya akan mengerahkan kualitas personalitinya untuk memperoleh dan meraup sebuah &#8220;keinginan&#8221; bahkan kadang menggunakan energi secara massal supaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":334,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[6],"class_list":["post-332","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-beret","tag-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=332"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":335,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332\/revisions\/335"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/334"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}