{"id":274,"date":"2020-08-18T10:56:00","date_gmt":"2020-08-18T03:56:00","guid":{"rendered":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/?p=274"},"modified":"2020-08-24T09:53:39","modified_gmt":"2020-08-24T02:53:39","slug":"ghafuura-versi-pak-ustadz-dzul-birri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/ghafuura-versi-pak-ustadz-dzul-birri\/","title":{"rendered":"Ghafuura Versi Pak Ustadz Dzul Birri"},"content":{"rendered":"\n<p><br>Oleh: Nasuha Abu Bakar MA<br><br>Sepertinya sudah menjadi amalan rutin bagi masyarakat Nusantara setiap kali Menjelang tanggal 17 Agustus untuk merapikan lingkungan. Biasanya dimotori oleh pejabat setempat seperti pak RT, pak RW bahkan pak lurah sampai ke pejabat tingkat atas semuanya mengimbau untuk melakukan bersih-bersih lingkungan.<br><br>Selain bersih bersih dan rapih lingkungan dilakukan juga pengecatan, pagar pagar yang menjadi tanda batas wilayah diperbaiki kemudian dicat dengan warna yang lebih menarik untuk dilirik, bagus mengundang untuk dipandang. Sebagai bentuk ungkapan bahagia kedatangan HUT RI yang hadirnya setiap tahun warga dan masyarakat tidak segan segan untuk merogoh kantong demi tercapainya peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan semangat perjuangan dan kebersamaan mereka berpatungan untuk membeli alat aksesoris seperti bendera dan lain lainnya. Membeli hadiah untuk menyemangati warga dan masyarakat agar tertanam perasaan cinta terhadap NKRI. Setiap lingkungan dihiasi dengan bendera warna merah dan putih tentu saja selain bendera merah putih yang berkibar kibar di depan setiap rumah warga.<br><br>Tidak ketinggalan, termasuk gapura yang warna cat nya sudah mulai pudar, usang bahkan ada juga yang sudah mulai terkelupas karena terkena sinar matahari. Semua warga lingkungan RT setempat bersama sama gotong royong untuk merubah penampilan gerbang lingkungannya yaitu gapura. Sebagian masyarakat belum memahami, atau bisa juga memang tidak faham, apa sebenarnya makna gapura.<br><br>Bukankah gapura letaknya di depan sebelum masuk ke area tempat tinggal penduduk dan masyarakat. Tentu saja ini bukan sekadar diletakkan di depan wilayah penduduk, akan tetapi tentu saja memiliki makna dan arti dalam bermasyarakat. Setidaknya bagi masyarakat dan lingkungan yang memiliki gapura memahami makna filosofinya. Pak Ustadz Dzul Birri pernah juga dengan sederhana memberikan arti tentang gapura.<br><br>&#8220;Bisa saja gapura itu berasal dari bahasa Arab diambil dari fi&#8217;il madhinya gafaro yang memiliki makna ampunan. Setidaknya ada dua hal untuk diperhatikan secara serius. Yang pertama Bagi warga dan masyarakat yang tinggal di tempat itu agar selalu memaafkan sesama warga, tidak elok rasanya bila warga dan masyarakat senangnya berseteru dengan sesama warga. Sehingga tercipta suasana damai, nyaman, tentram. Hamba yang senantiasa memohon ampunan dari Allah selalu damai dalam jiwa, bathinnya dalam menyikapi perubahan dalam kehidupan nya. Yang kedua, seyogyanya warga dan pendatang yang akan bertamu di lingkungan itu merasakan kesejukan, kedamaian karena penduduk setempat nya damai santun sikap dan perilakunya, sehingga tamu pun dibuat nyaman, karena tuan rumah atau warga yang tinggal di lingkungan gapura menyambut, memperlakukan tamu, tetangga dengan lemah lembut. Sesungguhnya, inilah pesan moral yang tersirat pada perbaikan, pengecatan gapura.&#8221;<br><br>Itulah penjelasan makna gapura menurut pak ustadz Dzul Birri.<br><br>Wallaahu&#8217;alamu bish shawaab wa ilahil musta&#8217;aan<br><br>Sabiluna, Selasa 18 Agustus 2020, pukul 08.35<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Nasuha Abu Bakar MA Sepertinya sudah menjadi amalan rutin bagi masyarakat Nusantara setiap kali Menjelang tanggal 17 Agustus untuk merapikan lingkungan. Biasanya dimotori oleh pejabat setempat seperti pak RT, pak RW bahkan pak lurah sampai ke pejabat tingkat atas semuanya mengimbau untuk melakukan bersih-bersih lingkungan. Selain bersih bersih dan rapih lingkungan dilakukan juga pengecatan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":281,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-274","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-beret"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=274"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":275,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274\/revisions\/275"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/281"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=274"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=274"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=274"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}