{"id":154,"date":"2020-04-06T03:35:00","date_gmt":"2020-04-06T03:35:00","guid":{"rendered":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/?p=154"},"modified":"2020-07-28T03:36:43","modified_gmt":"2020-07-28T03:36:43","slug":"siasat-mencari-selamat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/siasat-mencari-selamat\/","title":{"rendered":"Siasat Mencari Selamat"},"content":{"rendered":"\n<p>Rasanya seperti mimpi saja. Merasa tidak percaya, tetapi kejadian ini adalah nyata. Corona merajalela, bukan saja di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Namun kita tidak boleh putus asa. Kita lawan corona sekuat tenaga. Melawan musuh yang satu ini memang musykil, namun menang perang tidaklah mustahil. Asalkan kita terus berusaha dan berdoa kepada Allah disertai zikir dan tahlil.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah telah memberikan petunjuk dan panduan. Segala upaya dilakukan untuk menyiasati penularan. Siasat yang sangat bermanfaat, agar kita semua memperoleh keselamatan. Tuntunan sudah disampaikan, mulai cara mencuci tangan sampai menjaga jarak aman dalam pergaulan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tidak perlu cipika cipiki<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Saya tidak tahu pasti, kapan mulainya gaya salaman seperti kebiasaan bangsa Arab dan Eropa. Bersalaman seperti kurang afdhal kalau cipika-cipiki tidak ikut serta. Orang Italia menyebutkan beso di cortesio, ciuman sebagai tanda rasa hormat kepada seseorang yang penuh wibawa.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada lagi kebiasaan yang sama dengan kebiasaan sebagian bangsa kita, yakni cium tangan sebagai rasa hormat kepada orang yang dituakan atau orang yang lebih tua. Kebiasaan tersebut disebut bacio la mano di Italia. Di negeri korban terparah corona itu, kadang-kadang kita harus meminta izin terlebih dahulu kepada orang yang kita hormati kalau kita mau mencium tangannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam siasat mencari selamat, bersalaman seperti itu, saat ini, sangat tidak dianjurkan. Kerena bisa menjadi sebab penularan Covid-19 yang tidak berkesudahan. Meninggalkan kebiasaan yang telah membudaya dan melembaga di tengah masyarakat ini bukan hal yang mudah.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, timbulnya sikap ragu, bahkan menyepelekan situasi yang penuh bahaya ini harus kita cegah. Bersalamanlah menurut budaya Sunda, kedua telapak tangan ditangkupan kemudian dalam jarak jauh. Jarak aman dari penularan wabah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita hendaknya terus mengutamakan keselamatan pribadi, keluarga dan semua orang yang kita cintai. Kita semua harus bekerja sama dan menggalang persatuan dalam perang melawan Covid-19, yang terus mewabah tanpa henti.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jangan jumawa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\u201dWabah itu seperti api dan kalian adalah bahan bakarnya. Oleh karena itu, setiap dari kalian harus saling terpisah-pisah sehingga api itu tidak dapat menyala lagi dan akan padam dengan sendirinya\u201d. Itulah pesan yang disampaikan \u2018Amr bin \u2018Ash (Sahabat Rasulullah SAW dan Gubernur Syam) ketika berjangkit wabah Tha\u2019un \u2018Amwas di wilayahnya. (KH. Khalid Makmun).<\/p>\n\n\n\n<p>Pesan tersebut sejalan dengan pesan Pemerintah kita saat ini. Kita diminta untuk berupaya secara sadar agar tidak jatuh kepada kebinasaan akibat kelalaian kita sendiri. Allah pun telah memberi peringatan kepada kita : \u201c\u2026 dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan\u2026\u201d. (Q.S. al-Baqarah : 195).<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah SAW juga telah bersabda : \u201cJika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di tempat kalian berada, maka tempat itu jangan kalian tinggalkan\u201d. (HR Bukhary). Tuntunan lain terdapat dalam Alkitab: \u201dJika orang pintar melihat bencana, ia akan bersembunyi tetapi orang yang tidak berpengalaman akan terus berjalan dan terluka\u201d. (Amsal, 22:3). Bisa jadi orang yang terluka itu ialah orang yang sombong, jumawa dan bodoh tak terkira.<\/p>\n\n\n\n<p>Petunjuk agama di atas hendaknya menyadarkan kita bahwa dengan kesombongan, sikap jumawa dan kebodohan, hidup kita akan menjadi susah. Saat ini sumber informasi yang dapat dipercaya hanya keterangan Pemerintah. Kalau kita merasa ragu terhadap suatu berita, apalagi beritanya diperkirakan dusta atau hoax, jangan ikut menyebarkan. Apalagi kalau kita membuat komentar yang menimbulkan keresahan dan kepanikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita harus hati-hati serta mampu mengendalikan diri dan jari jemari, namun tetap mewaspadai situasi. Ada baiknya kalau kita memperhatikan ucapan tokoh imajiner dalam Film Godfather III, Michael Corleone: \u201cKeep your mouth shut, and your eyes open\u201d tutup mulut, buka mata. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH Dr AM Romly,<\/strong> Ketua Umum MUI Banten\/ Ketua FKUB Provinsi Banten<br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasanya seperti mimpi saja. Merasa tidak percaya, tetapi kejadian ini adalah nyata. Corona merajalela, bukan saja di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Namun kita tidak boleh putus asa. Kita lawan corona sekuat tenaga. Melawan musuh yang satu ini memang musykil, namun menang perang tidaklah mustahil. Asalkan kita terus berusaha dan berdoa kepada Allah disertai zikir [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":156,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-154","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-beret"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=154"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":155,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154\/revisions\/155"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/muibanten.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}